Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena campur kode dalam ekologi “brainrot” digital serta bagaimana praktik tersebut menjadi sarana negosiasi identitas siswa SMP. Fenomena brainrot merujuk pada paparan intensif terhadap konten digital yang repetitif, cepat, dan dangkal yang memengaruhi pola pikir dan praktik berbahasa remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus melalui observasi dan analisis wacana terhadap komunikasi siswa SMP di lingkungan sekolah dan media sosial. Data berupa tuturan yang mengandung campur kode seperti farming aura, nonchalant, fineshyt, big L, six seven, plenger, dan rizz. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campur kode tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai strategi performatif dalam membangun identitas sosial, menunjukkan solidaritas kelompok, serta merepresentasikan pengaruh globalisasi dan budaya digital. Dalam perspektif critical applied linguistics, praktik ini mencerminkan relasi kuasa bahasa, dominasi bahasa Inggris, serta pergeseran norma bahasa baku. Penelitian ini berimplikasi pada pentingnya pendekatan pedagogis yang adaptif terhadap dinamika bahasa remaja di era digital.
Copyrights © 2026