Pengalaman saya bersama kawan-kawan menyewa gedung tanpa uang tunai untuk mengembangkan bimbingan tes Primagama tersebut, saya pakai juga untuk mendirikan perguruan tinggi. Memulai perguruan tinggi tanpa uang tunai, saya lakukan pada saat pendirian AMIKOM Yogyakarta. Fasilitas utuma yang harus dipenuhi dengan biaya yang paling besar adalah gedung untuk ruang kuliah dan administrasi. Untuk mencari gedung tersebut, saya berputar-putar di sepanjang jalan yang cukup strategis di Yogyakarta, untuk mencari gedung yang dapat saya sewa.  Setiap saya menemukan gedung yang kelihatan kosong, saya menanyakan kepada penunggunya apakah disewakan atau tidak. Sebagian besar memang disewakan, tetapi harus dibayar tunai atau paling tidak harus ada uang mukanya. Untuk mendirikan perguruan tinggi tanpa uang tunai, memang dibutuhkan bekerja lebih keras dan berdoa lebih panjang dibandingkan dengan mendirikan perguruan tinggi dengan uang yang telah tersedia. Kita harus yakin, bahwa itu tetap bisa kita lakukan. Setelah menanyakan gedung satu ke gedung lain yang kosong selama berhari-hari, akhirnya menemukan gedung yang terletak di Jalan Monginsidi Nomor 8. Di depan gedung seorang yang sudah cukup usia sedang membersihkan halam gedung tersebut. Saya berhenti dari kendaraan saya dan turun untuk menghampiri Bapak tersebut. âMohon maaf Pak. Apakah gedung ini disewakan?â. âIya. Pakâ jawab Bapak tersebut. âNepangaken Pak. Saya Yanto Pakâ saya memperkenalkan diri. Bapak tersebut kemudian menjawab dengan bahasa Jawa âKulo. Lugimin Pakâ jawab Bapak tersebut. Untuk membuat akrab, maka saya berbincang-bicang dengan beliau dengan menggunakan bahasa Jawa. Saya menanyakan mulai dari siapa yang punya gedung, boleh disewa berapa lama dan harga sewanya berapa. Setelah berbincang-bincang lama, akhirnya saya diberi alamat pemilik gedung, kemudian saya pamit kepada Pak Lugimin untuk bertemu pemilik gedung tersebut. Setelah saya menuju alamat yang telah diberikan dan sesampainya di tempat, saya memberanikan diri untuk bertemu pemilik gedung di Jalan Monginsidi No. 8. Saya ditemui salah seorang stafnya, kalau beliau masih ke luar kota dan barus siangnya pulang. âBapak nanti sore saja. Sekitar jama setengah lima kesini lagi. Mungkin beliau sudah adaâ kata stafnya. Saya pamitan pulang, sambil berpesan kepada stafnya kalau nanti sore akan kembali lagi. Sore harinya, akhirnya saya bertemu pemilik gedung. Beliau memperkenalkan diri dengan nama âBudi Sutrisnoâ dan saya juga memperkenalkan diri dengan âYantoâ. Kemudian saya menyampaikan maksud kedatangan saya. âPak Budi saya ingin menyewa rumah Bapak selama dua tahunâ. âOh ya silakan. Rumah itu masih kosongâ jawab Pak Budi. âSaya akan mulai menyewa bulan Maret ini Pakâ saya mengungkapkan keinginan saya. âSilakan sajaâ jawab Pak Budi dengan lembut. âBerapa Pak sewanya?â saya bertanya biaya sewa. âEnam juta per tahun. Kalau dua tahun ya 12 jutaâ jawab beliau. âSaya sepakat Pakâ jawab saya. âBerarti jadi ya. â Pak Budi meyakinkan. âTetapi saya akan membayar pada Agustus dan Septemberâ. âLho kok begituâ kata Pak Budi. âSebab saya tidak punya uang Pak. Setelah Agustus dan September, Insya Allah saya dapat uang dari mahasiswa dan itu yang akan saya bayarkan pada Bapakâ. Pak Budi terdiam sejenak, kemudian berkata âYa tidak apa-apa, tetapi saya mohon dinotariskan yaâ. âYa Pakâ kata saya. Maka gedung calon AMIKOM  Yogyakartapun telah tersedia dan ternyata kita bisa memulai perguruan tinggi tanpa uang tunai untuk menyediakan fasilitas yang paling besar biayanya.
Copyrights © 2009