Selain kerajaan Minea dan Saba, kerajaan penting lainnya yang muncul di wilayah ini adalah Qataban. Negeri Qataban tinggal di lembah Baihan di sebelah timur Aden, yang kini berada di sekitar Hadramaut. Kerajaan Qataban dibangun dengan kondisi alam, iklim, social dan ekonomi serupa dengan kerajaan Minea, Sabaâ dan Hadramaut. Ekspedisi arkeologi telah menemukan sejumlah situs yang menunjukkan bahwa Minea, Sabaâ, Hadramaut dan Qataban mempunyai kemiripan dalam tahap pengembangan mereka dalam segala aspek. Seperti halnya kerajaan Arab Selatan lainnya dipicu oleh kekayaan yang besar dari perdagangan kemenyan (frankincense) dan myrrh yang dibakar di altar. Pada abad ketiga sebelum masehi (SM) dan abad kedua sebelum masehi, Qataban mencapai puncak kemakmuran. Qataban membiayai dengan pengeluaran lebih untuk membuat undang-undang, hokum dan peraturan serta lebih menertibkan hal-hal yang berkaitan dengan perdagangan dan pasar. Tamna merupakan ibukota Qataban dan merupakan kota yang paling besar di Wadi Baihan terletak di antara Shabwa dan Maârib. Kota Timna terletak pada rute perdagangan yang dilalui oleh kerajaan Minea, Sabaâ, Aksum dan Hadramaut. Tamna berada di tepi kiri Wadi Baihan pada pinggiran padang pasir. Sebuah tempat yang berjarak 30 km dari Tamna sangat terkenal sejak abad keempat SM.. Tempat tersebut merupakan pusat pemberhentian yang dilewati kafilah dagang kemenyan dan kerajaan Qataban mengumpulkan pajak dari para kafilah sebagai imbalan atas keselamatan mereka. Kafilah dagang kemenyan setelah mempersiapkan barang dagangannya di Tamna, kemudian dengan untanya menuju ke tujuan akhir, yaitu Gaza yang terletak di pantai Mediterania., menempuh jarak sekitar 2.380 km. Kafilah tersebut melalui 65 pusat pemberhentian, tempat unta untuk beristirahat sementara. Ekspedisi arkeologi telah menemukan barang peninggalan kuno berupa dua singa perunggu, tugu yang memuat hukum orang Qataban dan bangunan saluran air dari batu dan semen yang bahannya seperti semen yang tahan air. Saluran yang tersisa tersebut memanjang dari atas lebah Baihan sepanjang 25 km diperkirakan sejak aban kelima sebelum masehi. Monumen lain dari orang Qataban adalah rute Mablaqah, yang merupakan jalan yang dipahat pada batu pegunungan yang menghubungkan Lembah Baihan dan Lembah Hareeb melalui Gunung Mablaqah yang tingginya sekitar 380 m di atas laut, panjangnya sekitar 4,8 km dengan kemiringan yang membahayakan serta lebar jalan tersebut antara 3,5 meter sampai 4,5 meter.  Jalan pegunungan Mablaqah tersebut merupakan titik pertemuan berbagai rute dan jalur dari kemenyan, myrrh dan ollibanum. Kota tua orang Qataban lainnya adalah Hajar Bin Hameed yang terletak pada bukit menjorong pada ketinggian sekitar 21 meter dari lembah di Bifurcate yang berjarak 15 km di sebelah selatan Tamna dan juga merupakan jalur perdagangan kuno. Kota tersebut diperkirakan dibangun antara 1100 SM sampai 900 SM.  Kepala dewa orang Qataban adalah Amm atau âPamanâ dan orang Qataban menyebut dirinya âanak Ammâ. Kerajaan Qataban selama beberapa waktu berada di bawah kekuasaan kerajaan Saba dan Minea. Para sejarawan Arab sedikit pun tidak mengetahui bengsa-bangsa itu yang tulisan-tulisannya tersebar dari Arab utara hingga Etiopia, yang mengatur perdagangan rempah-rempah dan mendirikan bangunan-bangunan publik yang menakjubkan. Pemimpin Qataban juga bergelar mukarrib atau seorang pemegang kekuasaan sekaligus seorang pendeta. Mukarrib ini memimpin Qataban beberapa abad. Sekitar abad kelima mukarrib yang bernama Yadiah Dhubyan telah membangun Jembatan Selatan Timna.
Copyrights © 2008