Untuk ketiga kali, Asiaweek kembali membuat sensasi akademis dengan memuat daftar perguruan tinggi terbaik di Asia dan Australia. Kali ini majalah tersebut membedakan dua kelompok perguruan tinggi yaitu perguruan tinggi umum (multi disciplinary university) dan per-guruan tinggi iptek (science and technology university). Untuk ke-lompok umum terdiri dari 79 perguruan tinggi, sedangkan untuk iptek terdiri dari 35 perguruan tinggi.      Untuk mengurutkan nama-nama dalam daftar tersebut digunakan sistem evaluasi kuantitatif dengan cara pengumpulan nilai dari lima komponen; yaitu komponen reputasi akademik dengan nilai teoretis 0 s/d 20, selektivitas mahasiswa 0 s/d 25, mutu dosen di masing-masing fakultas 0 s/d 25, hasil penelitian 0 s/d 20, serta sumber keuangan 0 s/d 10. Secara teoretis nilai total maksimal adalah 100; ini hanya bisa dicapai oleh perguruan tinggi yang memiliki kriteria ideal atas kelima komponen itu. Semakin tinggi pencapaian nilai total pada suatu pergu-ruan tinggi makin tinggi pula kualitas akademiknya; sebaliknya, makin rendah nilai total makin rendah pula kualitas akademiknya.      Tidak seluruh perguruan tinggi di Asia dan Australia dikenakan evaluasi karena dari masing-masing negara hanya diambil beberapa perguruan tinggi yang memang layak untuk dinilai. Kali ini hanya ada 149 perguruan tinggi yang dianggap memenuhi kelayakan. Perguruan tinggi yang dianggap kurang bermutu atau kredibilitas akademiknya diragukan tidak termasuk di dalam daftar yang dinilai secara langsung oleh tim yang sudah dipersiapkan sebelumnya.      Di Indonesia misalnya, dari 1.300-an perguruan tinggi (PTN dan PTS) yang ada ternyata hanya lima yang dianggap layak untuk dinilai; yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Indonesia (UI), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Airlangga (Unair), dan Istitut Teknologgi Bandung (ITB).
Copyrights © 1999