Kaum Kindah merupakan kaum migrasi dari Yamanseperti halnya kaum Gassan dan kaum Lakhmi. Kaum Kindah berhubungan dengan raja Tubbaâ terakhir di Yaman. Sedangkan kaum Gassan menjadi sekutu Bizantium dan kaum Lakhmi menjadi sekutu Persia. Di kawasan semenanjung, kaum Kindah satu-satunya penguasa yang menerima gelar malik (raja), gelar yang biasanya ditujukan oleh bangsa Arab pada para penguasa asing. Meskipun berasal dari Arab Selatan dan menjelang masa kelahiran Islam, mendiami kawasan sebelah barat Hadramaut, kaum Kindah yang kuat itu tidak disebutkan dalam berbagai tulisan-tulisan Arab Sealatan paling awal; mereka pertama kali disebutkan dalam sejarah pada abad keempat Masehi. Pendirinya yang terkenal, Hujr, yang dijuluki Akil al-Murar, menurut sebuah riwayat adalah saudara tiri Hassan ibn Tubbaâ dari Himyar, dan diangkat olehnya pada 480 M. Sebagai penguasa suku-suku tertentu yang telah ditaklukkan oleh Tubbaâ di Arab bagian Tengah. Hujr kemudian digantikan oleh anaknya, âAmr. Selanjutnya anak âAmr al-Harits, raja Kindah paling bengis, menjadi raja yang setelah meninggalnya raja Persia, Qubadz, segera mengangkat dirinya sebagai penguasa Hirah, yang kemudian (sekitar 529) jatuh ke tangan al-Mundzir II dari kerajaan Lakhmi. Al-Mundzir menghukum mati al-Harits pada 529 beserta sekitar 50 anggota keluarga kerajaan, yang merupakan pukulan mematikan terhadap kekuasaan Kindah. Al-Harits mungkin pernah menetap di al-anbar, sebuah kota di kawasan Efrat sekitar 40 mil sebelah barat laut Baghdad. Sengketa di antar anak-anak al-Harits, yang msing-masing menjadi pemimpin suku, mengakibatkan pecahnya konfederasi dan jatuhnya kerajaan itu. Sisa-sisa kekuatan Kindah terpaksa mundur ke pemukiman mereka semula di Hadramaut. Peristiwa itu menandai berakhirnya salah satu kerjaan pesaing Hirah dalam perebutan supremasi antara tiga kerajaan di kawasan Arab Utara, pesaing lainnya adalah kerajaan Gassan. Penyair terkenal, Imruâ al-Qays, salah satu Penyair Emas, adalah keturunan keluarga kerajaan Kindah, yag berkali-kali gagal untuk memperoleh kembali warisannya. Puisi-puisinya bernada pedas, memancarkan nuansa perlawanan pada kerajaan Lakhmi. Dalam rangka mencari bantuan ia pergi hingga ke Konstantinopel, berharap memperoleh simpati Justine, musuh Hirah. Dalam perjalanan pulang, demikian menurut riwayat, ia diracun (sekitar 540) di Ankara oleh seorang utusan kaisar.
Copyrights © 2008