Penggantian Kurikulum 1994 menjadi Kurikulum 1999, atau Kurikulum Edisi 1999, Kurikulum 1994 yang Disempurnakan, atau apa pun namanya, sampai kini ternyata belum tuntas. Kebelumtuntasan ini bukan saja menyangkut pelaksanaan di lapangan yang banyak membawa keberatan pada para praktisi pendidikan di sekolah akan tetapi juga menyangkut belum jelasnya konsep kurikulum baru tersebut dalam kaitannya dengan skenario pembentukan anak Indonesia di masa depan.      Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa secara teknis penggantian kurikulum sekolah kita, dari SD s/d SMU dan SMK, tahun ini terasa mendadak. Apabila awal Juli lalu ada pejabat Depdikbud yang menginformasikan kurikulum baru belum selesai disusun itu menandakan bahwa penyusunan Kurikulum 1999 memang dilakukan secara marathon. Dengan demikian tidak terlalu salah apabila ada yang menyatakan bahwa dari sisi produksi, Kurikulum 1999 itu seperti fast food. Kalau kemudian ada yang mempertanyakan mana ada kurikulum "fast food" yang bermutu tentu dapat dimaklumi.      Dari sisi pelaksanaan juga demikian. Tiba-tiba saja pimpinan sekolah mendapatkan instruksi menjalankan Kurikulum 1999 meski banyak di antara mereka belum pernah sekalipun mendapat sosialisasi mengenai kurikulum yang baru. Perubahan sistem periodesasi belajar dari catur wulan ke semester (pada SMK), penambahan jam belajar, penyesuaian materi GBPP per mata pelajaran, dsb, benar-benar membingungkan banyak praktisi pendidikan di sekolah.       Pada sisi yang lain terdapat masalah-masalah yang prinsipial ditanyakan di lapangan; apakah Kurikulum 1999 ini dapat memberi kejelasan tentang skenario anak-anak kita di masa depan? Apakah penggantian kurikulum ini hanya merupakan ide sesaat dari para "penguasa" pendidikan?
Copyrights © 1999