Perjanjian Abraham yang ditandatangani sejak tahun 2020 menjadi salah satu transformasi geopolitik paling signifikan di kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir. Kesepakatan ini melibatkan Israel dengan sejumlah negara Arab, seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan, melalui fasilitasi Amerika Serikat sebagai bagian dari normalisasi hubungan diplomatik dan keamanan regional. Dinamika politik kawasan pasca Arab Spring, meningkatnya ancaman keamanan regional, serta rivalitas terhadap Iran mendorong negara-negara Arab membangun pola hubungan yang lebih pragmatis dan berorientasi pada stabilitas kawasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis dinamika Perjanjian Abraham terhadap pola hubungan regional Timur Tengah tahun 2026 menggunakan pendekatan Regional Security Complex Theory.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui studi pustaka dengan memanfaatkan dokumen resmi, jurnal ilmiah, artikel akademik, dan laporan lembaga internasional sebagai sumber data utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perjanjian Abraham tidak hanya menghasilkan normalisasi diplomatik, tetapi juga membentuk konfigurasi aliansi baru yang memperkuat kerja sama keamanan, ekonomi, teknologi, dan pertahanan di kawasan Timur Tengah. Selain itu, terjadi perubahan pola amity dan enmity yang memperlihatkan pergeseran orientasi politik negara-negara Arab dari solidaritas ideologis menuju pragmatisme geopolitik. Keterlibatan Amerika Serikat sebagai aktor eksternal turut memengaruhi distribusi kekuasaan regional, terutama dalam upaya menyeimbangkan pengaruh Iran di kawasan. Meskipun demikian, konflik Gaza dan isu Palestina tetap menjadi tantangan utama dalam mewujudkan stabilitas regional secara menyeluruh.
Copyrights © 2026