"Kita memilih teknologi yang paling menguntungkan dalam proses nilai tambah guna kepentingan bangsa. Tidak berkiblat ke luar, tapi ke dalam, berorientasi pada kepentingan nasional. Bisa saja saya mengambil teknologi dari mana saja. Tapi saya tidak akan mengambil teknologi yang tidak sesuai dengan keadaan kita, seperti teknologi yang dimanfaatkan pada kapal pemecah lapisan es. Juga tidak akan mengambil teknologi dari sistem heating (pemanasan) di Eropa, sebab tidak sesuai dengan iklim di Indonesia. Saya cuma interest. Yang saya pikirkan; teknologi apa yang dibutuhkan bangsa ini !".      Demikian salah satu point terpenting yang dikemukakan oleh Menristek RI, Prof. Dr. B.J. Habibie ketika beliau diwawancarai oleh wartawan ibukota baru-baru ini, kaitannya dengan kiblat teknologi kita.      Apa yang dikemukakan oleh Pak Habibie diatas memang sangat perlu kita perhatikan untuk selanjutnya kita pegang (jawa: gondheli), mengingat sampai saat ini masih banyak yang bertanya-tanya kemana kiblat teknologi kita. Apakah berkiblat ke Amerika? Ke Jepang? Ke negara-negara sosialis? Atau ke negara-negara Barat lainnya?!      Ternyata buka itu semua, tapi kedalam. Ke negeri kita sendiri!
Copyrights © 1985