ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2009: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JULI - SEPTEMBER 2009

KIAT SUKSES MENJADI ENTREPRENEUR BAGI ORANG BIASA (9)

Suyanto, Mohammad (Unknown)



Article Info

Publish Date
20 Nov 2009

Abstract

Untuk mewujudkan tahap ketiga yang paling sulit untuk menjadi entrepreneur adalah mengambil langkah memulai bisnis. Hal tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara dalam menemukan peluang bisnis. Pendidikan kita dapat dipakai sebagai senjata untuk memulai bisnis. Pendidikan merupakan tindakan atau pengalaman yang mempunyai pengaruh terhadap perkembangan pikiran, karakter dan kemampuan fisik individu. Pendidikan juga didefinisiakan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Ketika saya diterima di FMIPA Fisika Universitas Gadjah Mada, maka saya telah punya bekal ilmu yang diajarkan dosen saya mata kuliah alamiah dasar berupa Fisika, Kimia dan Matematika. Dengan bekal ilmu ini bergabung dengan kawan-kawan saya dapat menciptakan peluang bisnis berupa bimbingan belajar, ketika itu namanya bimbingan tes. Kawan saya lain ada yang dari Teknik Elektro yang dapat mengajar matematika, ada yang dari Fakultas Ekonomi yang dapat mengajar Bahasa Inggris dan Ekonomi dan ada juga yang berasal dari Biologi yang dapat memberikan pelajaran Biologi. Sedangkan pengajar atau saat itu kita sebut tentor, kita carikan kawan-kawan dekat yang dapat dibayar murah, karena belum mempunyai kemampuan untuk membayar mahal. Kalau ada uang dibayar, kalau tidak ada memohon kesabaran kepada kawan yang mengajar tersebut. Kawan kita tersebut sangat memakluminya. Mereka semua seperti keluarga. Kesulitan dan kesenangan kita arungi bersama dalam rangka menggapai cita-cita yang lebih besar, yaitu unit bisnis baru itu terlahir dan bermanfaat untuk orang banyak. Customer service kita juga kita perlakukan seperti halnya pengajar. “Mbak.. Kita dapat membayar gaji Mbak kalau yang mendaftar dan ikut bimbingan belajar, tetapi kalau tidak ada yang mendaftar ya tidak dapat mengaji” kata kita. “Nggak apa-apa. Saya bekerja di sini terutama karena cari pengalaman” kata Customer service kita. Dia satu-satunya orang yang duduk di kursi dengan meja sederhana, tempat untuk melayani calon peserta bimbingan. Sedangkan kami duduk di tikar, karena itulah yang kita miliki dan tempat mengatur strategi, tempat berdiskusi, tempat membuat materi dan soal-soal yang akan kita berikan kepada peserta bimbingan. Tikar adalah tempat kita untuk berdoa kepada Tuhan agar bisnis yang kita jalankan dapat berkembang dengan baik. Modal bimbingan belajar tersebut adalah patungan. Kebetulan ketika itu saya juga mengajar di Bimbingan belajar lain dan mengajar di SMP dan SMA di Yogyakarta, sehingga ada penghasilan sedikit untuk ikut memodali berdirinya bimbingan belajar tersebut. Demikian pula kawan-kawan saya lainnya, ada yang berasal dari uang kiriman dan ada pula uang yang digunakan untuk memasang listrik. Ada juga dari hasil penjualan buku. Termasuk meja dan kursi yang dipakai Customer service kita serta tikar tempat singgasana kita.  Sesungguhnya modal yang paling besar adalah karena pengelolanya selama hampir 2 tahun tidak digaji secara proporsional, tetapi uangnya dikumpulkan untuk menjalankan bimbingan belajar tersebut. Kami ketika itu hanya sekedar mendapatkan uang untuk makan masing-masing Rp. 50.000,-. per bulan. Memanglah kekeluargaan dan kebersamaan serta iringan doa merupakan modal yang tak ada tandingannya.

Copyrights © 2009