Menepati janji merupakan pekerjaan yang sulit dilakukan, terutama ketika kita masih menjadi perusaahaan yang masih kecil, tetapi kalau kita bisan melakukan, maka akan meningkatkan kepercayaan. Pengalaman saya membantu pengusaha kecil, masalah menepati janji ini yang tidak dapat dilaksanakan dengan baik. Padahal kalau dia menepati janji akan saya bantu lagi. Tidak saja menepati janji, tetapi malah menghilang dari peredaran. Sebagian dari pengusaha kecil kita lebih menyukai menghindar daripada menghadapi masalah, sehingga masalahnya jadi tidak terpecahkan, bahkan menjadi rumit dan membuat kepercayaan luntur. Padahal jika masalah itu kita hadapi, hampir pasti masalahnya dapat dipecahkan bersama. Meskipun kadangkala, kita menerima umpatan kemarahan dan kadangkala cacian atau hinaan. Tetapi ada satu senjata bagi kita, yaitu minta maaf. Insya Allah, jika kita meminta maaf dengan tulus, kita akan dimaafkan. Kita datang bukan untuk memperuncing masalah, tetapi memecahkan masalah. Sayapun juga pernah menjadi pengusaha kecil yang sulit dari sisi keuangan. Pada suatu saat saya harus membayar kontrakan rumah untuk kantor, ternyata uangnya tidak cukup meskipun sudah bekerja keras untuk mendapatkan uang tersebut. Saya seminggu sebelum jatuh tempo datang ke rumah Bapak yang punya rumah. Saya mengambil resiko untuk menyiapkan diri dimarahi, karena belum bisa membayar secara penuh, tetapi saya datang untuk mencari penyelesaian masalah. Masalahnya bagaimana dengan uang yang tidak cukup itu, untuk tetap dapat menempati kantor tersebut. Saya menyatakan bahwa saya salah, maka saya minta maaf, tidak mampu membayar sesuai yang saya janjikan, saya minta untuk diberi tenggang waktu. Meskipun dengan perasaan marah kepada saya, tetapi akhirnya, Bapak yang mempunyai rumah tersebut memaafkan saya dan memberikan kelonggaran kepada saya. Satu tahun kemudian, setelah perusahaan saya mempunyai keuangan baik, saya datang lagi sebulan sebelum jatuh tempo pembayaran tahun berikutnya. Kebaikan Bapak Pemilik rumah tidak pernah saya lupakan. Kepada pemilik rumah saya katakan âSaya hari ini membayar kontrakan yang jatuh tempo bulan depan Pakâ. âLho kan masih bulan depan. Kok dibayar hari iniâ jawab Bapak pemilik rumah setengah tidak percaya. âSebagai ganti Bapak telah memberi tenggang waktu kepada saya tahun laluâ kata saya. âTerima kasih Pak Yantoâ jawab Bapak pemilik rumah. Kemudian saya berpamitan. Tiga bulan sebelum jatuh tempo, Â saya kembali ke rumah ke Bapak pemilik rumah untuk menanyakan harga sewa tahun berikutnya. âUntuk harga kotrakan tahun depan terserah Pak Yanto, yang penting saya jangan rugi karena inflasiâ kata yang mempunyai rumah. Kepercayaan pemilik rumah kepada saya tumbuh kembali.
Copyrights © 2008