Setelah âgegeranâ CDMA mulai reda yang oleh sebagian anggota masyarakat dianggap tidak jelas jluntrung dan ending-nya, kini Yogyakarta diguncang âgempaâ baru berupa dipermasalahkannya pengelolaan sekolah negeri; utamanya menyangkut penarikan biaya seragam sekolah yang dianggap tidak transparan, pembebasan siswa (baru) korban gempa dari berbagai iuran sekolah, dan sebagainya. Â Â Â Â Â Â Â Awalnya sederhana, banyak orang tua siswa sekolah negeri yang mengeluh karena tarikan untuk uang seragam sekolah angka nominalnya sangat tinggi; padahal kalau membeli sendiri harganya jauh lebih murah. Keluhan seperti ini kemudian ditampung oleh LSM yang peduli terhadap pendidikan di Yogyakarta; kemudian ditindaklanjuti dengan minta klarifi-kasi kepada pihak sekolah. Masalah pun berkembang pada iuran pendidikan yang dipungut dari siswa (baru) korban gempa. Â Â Â Â Â Â Â Sampai langkah tersebut masyarakat menilai konstruktif terhadap lang-kah yang ditempuh oleh LSM; namun kekonstruktifan itu sedikit berkurang manakala ketika diadakan pertemuan konsolidasi pihak-pihak yang berke-pentingan ternyata LSM yang bersangkutan justru tidak datang. Sekarang ini kasus tersebut malah sudah dilaporkan ke Polda DIY. Â Â Â Â Â Â Â Melihat perkembangan tersebut sepertinya kasus penarikan biaya untuk seragam sekolah dan pungutan bagi siswa (baru) korban gempa semakin meruncing. Sebagian anggota masyarakat justru mulai acuh, jangan-jangan kasus ini hanya akan mencabik-cabik nama Yogyakarta sebagai Kota Pen-didikan tanpa âendingâ yang jelas sebagaimana dengan kasus CDMA.
Copyrights © 2006