Pendidikan senantiasa mendapatkan perhatian yang mahaserius dari berbagai kalangan, baik kalangan pemerintah maupun kalangan masyarakat. Hal ini disebabkan karena disadari pendidikan merupakan media dan sarana yang paling potensial untuk mengembangkan mutu sumber daya manusia. Asumsinya sederhana: kalau pendidikan dapat ditangani secara proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia akan lebih dekat realisasinya, sebaliknya kalau penanganan pendidikan dilakukan kurang proporsional maka pengembangan mutu sumber daya manusia tentu banyak mengalami hambatan.      Itulah sebabnya maka setiap RAPBN diumumkan oleh pemerintah, dalam hal ini adalah oleh Presiden RI Soeharto, maka anggaran pendidikan senantiasa memperoleh perhatian untuk dicermati nilainya; apakah anggaran sektor pendidikan mengalami kenaikan atau bahkan justru mengalami penurunan.      Sebagaimana dengan dinamika di dalam RAPBN itu sendiri maka anggaran sektor pendidikan pun mengalami dinamika dalam angka-angkanya. Di dalam sejarahnya anggaran sektor pendidikan dari tahun ke tahun senantiasa mengalami pasang surut; terkadang naik dan ter-kadang turun kalau dibandingkan dengan anggaran dalam APBN yang sedang berjalan.       Tahun ini RAPBN 1996/1997 baru saja "diumumkan" pemerintah melalui sidang paripurna DPR yang disamping dihadiri oleh para wakil rakyat juga dihadiri oleh para pejabat tinggi negara, termasuk di dalamnya Wakil Presiden Try Soetrisno. Penyampaian nota keuangan dan RAPBN oleh Presiden Soeharto tidak saja mendapat perhatian para wakil rakyat yang menghadiri sidang, akan tetapi juga mendapat perhatian rakyat Indonesia pada umumnya; lebih daripada itu pidato presiden juga mendapat perhatian dari para analis di luar negeri.
Copyrights © 1996