ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
2007: HARIAN KEDAULATAN RAKYAT JANUARI - MARET 2007

GLOBALISASI DAN KEMISKINAN

Suyanto, Mohammad (Unknown)



Article Info

Publish Date
08 Nov 2009

Abstract

Globalisasi dan pasar bebas memang diimajinasikan sebagai upaya meningkatkan efisiensi global. Perdagangan secara global membantu banyak negara untuk berkembang lebih cepat. Globalisasi juga membuat negara-negara berkembang mendapat akses pengetahuan yang tak dapat diperoleh sebelumnya. Globalisasi (yang biasanya dikaitkan dengan menerima gaya kapitalisme sejati, gaya Amerika) merupakan kemajuan negara-negara berkembang harus menerimanya, jika mereka ingin berkembang dan memerangi kemiskinan secara efektif. Tetapi bagi kebanyakan orang di negara-negara berkembang, globalisasi tidak membawa keuntungan ekonomi yang dijanjikan (Stiglitz, 2002:6). Globalisasi dalam praktiknya si lemah harus membiayai efisiensi dunia demi kesejahteraan si kuat. Selatan membiayai efisiensi global demi keuntungan dan kemajuan Utara. Kesenjangan yang semakin lebar antara yang kaya dan yang miskin telah memunculkan semakin banyak orang di Dunia Ketiga menjadi semakin miskin. Pada 1990, 2.718 miliar penduduk hidup dengan uang kurang dari $ 2 per hari, sedangkan pada 1998 jumlah penduduk miskin yang hidup dengan uang yang kurang dari $ 2 perhari diperkirakan 2.801 miliar. Hal ini terjadi berkenaan dengan peningkatan total pendapatan dunia secara aktual sebesar rata-rata 2,5% setiap tahunnya (Bank Dunia, 2000:29). Globalisasi belum berhasil mengurangi kemiskinan dan belum berhasil menjamin stabilitas. Krisis di Asia dan Amerika Latin telah mengancam perekonomian dan stabilitas negara-negara berkembang, bahkan krisis 1997 dan 1998 merupakan sebuah ancaman bagi seluruh perekonomian dunia. Bahkan krisis yang lebih besar terjadi sebelumnya. Krisis ekonomi, keuangan dan perbankan terbesar yang terjadi di Amerika Serikat pada 1930-an, yaitu 9.106 ditutup atau dibantu. Pada Tabel 1.1, ditunjukkan jumlah bank di Amerika Serikat yang ditutup atau dibantu (Federal Deposit Insurance Corp, 2004). Globalisasi dan pengenalan ekonomi pasar belum memberikan hasil-hasil yang dijanjikan di Rusia dan bagi kebanyakan perekonomian lain yang sedang melakukan transisi dari komunisme ke sistem ekonomi pasar. Namun sebaliknya sistem tersebut menghasilkan kemiskinan yang begitu besar (Stiglitz, 2002:7). Petras dan Velmeyer (2001) lebih tegas dari yang dikemukakan di atas, globalisasi adalah the new imperialism, dalam bentuknya sebagai the new system of global international capitalist class, yaitu TNCs (transnational corporations) yang saat ini mencapai jumlah 37.000), Bank Dunia, IMF, IFIs (international financial institutions sebagai the global financial network), G-7, TC (Trilateral Commission dan WEF (the World Economic Forum). Krisis pertengahan 1997 tersebut juga melanda Indonesia, bahkan Indonesia merupakan negara yang menderita paling parah. Pertumbuhan ekonomi yang tahun sebelumnya sekitar 7% per tahun merosot tajam sampai - 13,7% dan inflasi mencapai 77,6 % pada 1998 (Sabirin, 2003:45). Ternyata globalisasi bukan meningkatkan kesejahteraan, tetapi bagi dunia ketiga, globalisasi justru meningkatkan kemiskinan.

Copyrights © 2007