Belum lama ini Menteri Pendidikan Wardiman Djojonegoro telah menerima pendapat dan usulan tentang kemungkinan AIDS, Acquired Immuno Defficiency Syndrome (AIDS), sebuah penyakit "modern" yang disebabkan oleh Human Immunodefficiency Virus (HIV),untuk dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Dengan dimasukkannya dalam kurikulum maka anak-anak kita yang masih menuntut ilmu di bangku sekolah lebih mudah mengenal AIDS secara ilmiah sehingga nantinya akan menjauhi penyakit yang sangat ditakuti itu.      Dengan tanpa meremehkan pendapat dan usulan tersebut, secara bijaksana Pak Wardiman mengemukakan bahwa tidak mungkin AIDS dimasukkan di dalam paket kurikulum; namun demikian bukan tidak mungkin materi AIDS dapat disampaikan melalui bidang-bidang studi yang relevan, misalnya saja melalui bidang studi Kesehatan.     Memang secara teknis tidaklah mungkin kurikulum yang sekarang ini berlaku di sekolah, SD,SLTP maupun SMU/SMK, disempurnakan dan apalagi diubah hanya karena adanya keinginan untuk memasukkan bidang studi AIDS di dalamnya. Kurikulum 1994 yang sekarang ini diberlakukan di sekolah-sekolah kita masih tergolong baru dan belum ada evaluasi efektivitas pada kurikulum tersebut. Secara metodologis penyempurnaan atau perubahan kurikulum baru dilaksanakan kalau sudah ada evaluasi efektivitas.      Meskipun demikian, usulan tersebut perlu dilihat dari kaca mata yang positif. Setidak-tidaknya terdapat dua hal penting di balik usulan tersebut di atas; yaitu pertama, adanya kekhawatiran yang mendalam terhadap generasi anak dan remaja ("sekolahan") kalau-kalau sampai terjangkiti AIDS yang dapat merusak masa depan diri dan bangsanya, dan kedua, metoda penyampaian informasi dini mengenai AIDS pada generasi penerus kita.
Copyrights © 1996