ARTIKEL KORAN DAN MAJALAH DOSEN STMIK AMIKOM YOGYAKARTA
1993: HARIAN BALI POS

TRAUMA AKADEMIK DALAM "SISTEM NEM"

Supriyoko, Ki (Unknown)



Article Info

Publish Date
11 May 2010

Abstract

       Perburuan kursi belajar di SLTP, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, baik negeri maupun swasta telah dimulai sejak tanggal 22 Juni 1993 yang lalu.  Para lulusan SD, Sekolah Dasar, dan/atau orangtuanya dipersilakan memilih SLTP yang dianggap paling cocok dan paling banyak membe-rikan kemudahan belajar.  Tidak ada larangan sedikit pun bagi lulusan SD untuk melanjutkan studinya di SLTP, bah-kan untuk menyongsong dicanangkannya program wajib bela-jar SLTP tahun 1994 mendatang oleh pemerintah maka para lulusan SD justru dianjur-anjurkan untuk melanjutkan stu dinya di SLTP.          Bagaimana apabila sekolah-sekolah setempat tidak mampu menampung  lulusan SD yang ada?  Ini baru masalah! Memang sampai sekarang ini angka melanjutkan (continuity rate) SD-SLTP di negara kita masih berkisar pada angka 65%, artinya baru 65 dari setiap 100 lulusan SD yang da-pat ditampung di SLTP. Bagaimana dengan nasib 35 lulusan yang lainnya?  Ada yang bekerja, membantu orang tua, me-nganggur, dan entah apa lagi.         Meskipun angka melanjutkan SD-SLTP secara nasional masih jauh dari memadai akan tetapi di kota-kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, dan la-innya masalah tersebut tidak terlalu meresahkan. Umumnya jumlah kursi belajar di sekolah-sekolah setempat relatif cukup untuk menampung lulusan SD yang ada; masalahnya se karang adalah bagaimana memilih SLTP yang bermutu berka-itan dengan sistem seleksi yang diaplikasi.

Copyrights © 1993