Baru-baru ini seseorang datang menemui saya dengan membawa keluhan tentang keluarganya yang sudah beberapa tahun menjadi guru di Timor Timur. Menurutnya, sudah bertahun-tahun sang guru tersebut telah banyak mengalami penderitaan yang tak terkira; dari hal-hal yang menyangkut psikis, misalnya hinaan dan ancaman dari orang tua apabila anaknya yang tidak rajin masuk sekolah tidak dinaikkelaskan, sampai hal-hal yang menyangkut fisik, antara lain pelemparan dengan batu dan pemukulan.      Lebih daripada itu sekarang ini rumah satu-satunya yang ia miliki sebagai tempat berteduh dan berkumpul dengan keluarga telah diberi tanda khusus oleh penduduk setempat. Maksudnya kalau Timor Timur nantinya jadi melepaskan diri dari kedaulatan RI, dan berdiri sendiri sebagai negara yang merdeka, maka sang guru yang berasal dari luar Timor Timur itu harus angkat kaki. Nah, pada saat itulah rumah sang guru tersebut akan dimiliki oleh penduduk yang lebih dulu memberi tanda khusus.      Kedatangan teman saya tadi meminta saya untuk menyampaikan keluhan kepada Menteri Pendidikan, Juwono Sudarsono, atau kepada Presiden Habibie, atau membawanya ke dalam rapat Badan Pertim-bangan Pendidikan Nasional (BPPN), dengan harapan dapat dicarikan jalan keluarnya dengan segera.      Ketika saya tanyakan apakah masalah tersebut sudah pernah dia-jukan kepada pimpinan departemen setempat, misalnya kepada penga-was, Kepala Kantor Pendidikan tingkat kecamatan atau Kepala Kanwil Depdikbud, atau kepada aparat keamanan setempat; mereka menyatakan setiap kejadian hampir selalu dilaporkannya. Namun demikian tak pernah mendapatkan jalan keluar yang memuaskan; bahkan kalau fre-kuensi laporannya agak tinggi dirinya sering justru dianggap "rewel" atau bahkan diberi cap sebagai anak nakal.
Copyrights © 1999