Sebuah tradisi politis pidato presiden menjelang tahun anggaran baru untuk menyampaikan nota keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) di hadapan para wakil rakyat kiranya merupakan kebiasaan kenegaraan yang konstruktif; apalagi pidato tersebut secara langsung dapat dinikmati oleh masyarakat luas, meskipun melalui bantuan media. Dengan menikmati pidato ini masyarakat dapat mengetahui secara lebih pasti kemampuan ekonomi "rumah tangga" negara, serta sekaligus kebijakan dan strategi pembangunan yang akan ditempuhnya.        Kiranya kita pantas bersyukur, di tengah-tengah gencarnya isu politis "peristiwa Dili" yang menimbulkan berbagai spekulasi mengenai bantuan luar negeri ternyata RAPBN 1992/1993 mengalami kenaikan yang berarti apabila dibandingkan dengan APBN 1991/1992. Lebih dari itu upaya pemerintah untuk mengurangi ketergantungan terhadap pi-hak "luar" semakin tercermin dalam formulasi RAPBN 1992/ 1993 tersebut.        Apabila dibandingkan dengan APBN 1991/1992 maka RAPBN 1992/1993 mengalami kenaikan sebesar 10,98%; yaitu dari 50.555,5 miliar rupiah (1991/1992) menjadi 56.108,6 miliar rupiah (1992/1993). Bila dibandingkan dengan APBN empat atau lima tahun yang lalu, APBN 1988/1989 yang be-sarnya 28.963,6 miliar rupiah, maka nominal kenaikannya hampir mencapai dua kalinya. Jujur saja, diakui atau ti-dak, hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pemerintah kita, khususnya di bidang ekonomi.
Copyrights © 1992