The sabbath in the Old Testament is often understood normatively as a ritualistic legal obligation, which risks obscuring its deeper transformative theological significance for contemporary believers. This study aims to deconstruct the meaning of the sabbath through a biblical-theological approach by employing Bloom’s Taxonomy as an analytical framework encompassing cognitive, affective, and practical dimensions. The background of this research arises from the tension between legalistic interpretations of sabbath law and the contextual need to recover its relevance in modern life. The novelty of this study lies in the integration of a pedagogical framework (Bloom’s Taxonomy) into theological analysis, an approach that remains relatively underexplored in sabbath studies, thereby offering a more holistic interpretive perspective. The findings reveal that the sabbath functions not merely as a legal institutions but as a means of cultivating relationship with God, restoring human identity, and embodying social liberation. Therefore, the sabbath can be understood transformative as a rhythm of life that fosters justice, rest, and restoration within the context of contemporary faith. Abstrak Sabat dalam Perjanjian Lama sering dipahami secara normatif sebagai kewajiban hukum yang bersifat ritualistik, sehingga berpotensi kehilangan dimensi teologis yang transformatif bagi kehidupan orang beriman masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemaknaan Sabat melalui pendekatan teologi biblika dengan memanfaatkan kerangka Taksonomi Bloom sebagai alat analisis kognitif, afektif, dan praksis. Latar belakang penelitian ini berangkat dari ketegangan antara pemahaman legalistik yang secara umum banyak dipahami terhadap hukum Sabat dan kebutuhan kontekstual untuk menghadirkan makna yang relevan dalam kehidupan modern. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan pedagogis (Taksonomi Bloom) dalam analisis teologis, yang jarang digunakan dalam studi Sabat, sehingga membuka ruang interpretasi yang lebih holistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sabat tidak hanya berfungsi sebagai institusi hukum, melainkan sebagai sarana pembentukan relasi dengan Allah, pemulihan indentitas manusia, dan praksis pembebasan sosial. Dengan demikian, Sabat dapat dimaknai secara transformatif sebagai pola dan gaya hidup dari umat Allah yang menghadirkan keadilan, perhentian, dan pemulihan dalam konteks iman kontemporer. Kata Kunci: Sabat, Teologi Perjanjian Lama, Dekonstruksi, Taksonomi Bloom.
Copyrights © 2026