cover
Contact Name
Els Runkat
Contact Email
glossaisjurnal@gmail.com
Phone
+6282396700120
Journal Mail Official
glossaisjurnal@gmail.com
Editorial Address
Alamat: Apartemen Mediterania Gajah Mada, Lt G2,15, Jl. Gajah Mada No.174 16, Keagungan, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11130
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
GLOSSAIS: Jurnal Teologi & Pendidikan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 31233945     DOI : -
Core Subject :
Glossais diambil dari kata Yunani glōssais (γλώσσαις) yang berarti lidah atau bahasa. Istilah ini dipakai dalam Perjanjian Baru untuk menggambarkan karya Roh Kudus melalui karunia bahasa lidah (Kis. 2; 1Kor. 12–14). Nama ini dipilih untuk menegaskan identitas Pantekosta, sekaligus melambangkan upaya STT Pantekosta Jakarta menghadirkan “bahasa” teologi dan ilmu bagi gereja serta masyarakat lintas budaya, bangsa, denominasi hingga menjangkau global.GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani berfokus pada kajian teologi yang mengintegrasikan perspektif kontemporer dan interdisipliner untuk mengeksplorasi makna dan relevansi teologi dalam konteks modern, serta kajian tentang Pendidikan Agama Kristen yang berkomitmen untuk mengeksplorasi dan mengkritisi berbagai dinamika dan tantangan yang muncul dalam pendidikan agama Kristen di era digital dan multikultural.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Manusia Baru dalam Kolose 3:10: Sebuah Studi Biblis tentang Transformasi Hidup Kristen Samuel Prasetyo Dara; Didit Yuliantono Adi
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1 (2025): EDISI NOVEMBER
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Human life in the present age is inseparably bound to the power of sin that permeates thoughts and actions, including those of believers. Christians are not immune to sin, whether influenced by external factors such as cultural and social environments or by internal inclinations within themselves. Colossians 3:10 presents the concept of “putting on the new self” as both a theological and practical guideline for the life of faith. The Epistle to the Colossians was written by the Apostle Paul to address doctrinal and ethical challenges within the congregation, aiming to reaffirm their new identity in Christ. This study seeks to elaborate four key principles of the new self in Colossians 3:10 and to explore their relevance for contemporary Christian life. Employing a descriptive-theological approach, this research demonstrates that the transformation of believers’ lives is characterized by the renewal of the mind, the establishment of a new identity, conformity to the image of the Creator, and ethical application in daily living. The findings contribute to a deeper theological understanding of Christian spirituality and provide practical implications for nurturing faith amid today’s moral and cultural challenges.   Abstrak Kehidupan manusia masa kini tidak terlepas dari kuasa dosa yang merasuk dalam pola pikir dan tindakan, termasuk di dalam diri orang percaya. Orang Kristen tidak kebal terhadap dosa, baik karena faktor eksternal seperti pengaruh lingkungan maupun faktor internal yang muncul dari kecenderungan diri sendiri. Surat Kolose 3:10 menampilkan konsep “mengenakan manusia baru” sebagai pedoman teologis dan praktis bagi orang percaya. Surat ini ditulis Rasul Paulus kepada jemaat Kolose yang menghadapi persoalan doktrinal dan etis, dengan tujuan meneguhkan identitas baru dalam Kristus. Penelitian ini bertujuan menguraikan empat prinsip utama mengenai manusia baru dalam Kolose 3:10 serta relevansinya bagi kehidupan Kristen kontemporer. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif-teologis, penelitian ini menegaskan bahwa transformasi hidup orang percaya ditandai oleh pembaruan pemikiran, pembentukan identitas baru, kesesuaian dengan gambar Sang Pencipta, serta penerapan etis dalam kehidupan sehari-hari. Hasil kajian ini berkontribusi pada pemahaman teologis mengenai spiritualitas Kristen dan memberikan implikasi praktis bagi pembinaan iman di tengah tantangan moral dan budaya masa kini. Kata Kunci: Kolose 3:10, Manusia Baru, Orang Percaya
Kaum Pentakosta dan Bahasa Lidah: Kajian Teologis sebagai Sarana Membangun Stamina Doa Ibrahim Ibrahim
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research is motivated by the increasing attention to the practice of tongues in the Pentecostal tradition as a means of building prayer stamina, as well as the emergence of praxis deviations such as the commercialization of gifts and excessive symbolic meaning. Using the qualitative method of literature study, this study examines the theological, psychological, and neurotheological literature related to the function of glossolalia in prayer. The purpose of this research is to explain the theological basis and scientific findings that support the role of tongues in strengthening prayer perseverance. The results of the study show that tongue language is understood as prayer mediated by the Holy Spirit and is supported by findings of religious psychology and neurotheology that associate it with increased emotional regulation and prayer duration. This study concludes that tongue language has significant potential in building prayer stamina if practiced in a healthy and responsible manner.   Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya perhatian terhadap praktik bahasa lidah dalam tradisi Pentakostal sebagai sarana membangun stamina doa, sekaligus munculnya penyimpangan praksis seperti komersialisasi karunia dan pemaknaan simbolik yang berlebihan. Dengan menggunakan metode kualitatif studi kepustakaan, penelitian ini menelaah literatur teologis, psikologis, dan neuroteologis terkait fungsi glossolalia dalam doa. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan dasar teologis dan temuan ilmiah yang mendukung peran bahasa lidah dalam memperkuat ketekunan doa. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa lidah dipahami sebagai doa yang dimediasi Roh Kudus serta didukung temuan psikologi agama dan neuroteologi yang mengaitkannya dengan peningkatan regulasi emosi dan durasi doa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa lidah berpotensi signifikan dalam membangun stamina doa apabila dipraktikkan secara sehat dan bertanggung jawab. Kata Kunci: Pentakostal, Bahasa lidah, Doa, Stamina doa, Roh Kudus, Spiritualitas
Pendidikan Agama Kristen Menurut Horace Bushnell Alexander Situmorang; Elis Louisa Ay; Carol Sally Sambur
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1 (2025): EDISI NOVEMBER
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article examines Horace Bushnell's thoughts on Christian Religious Education as presented in his influential work, The Christian Nurture. The method used is a qualitative analysis of Bushnell's writings, supported by a historical-contextual review to understand the social and religious situation that shaped his educational theory. The research findings indicate that Bushnell emphasized the role of family and community in the organic growth of a child's faith, challenging the revivalist tradition that prioritized sudden conversion. Bushnell proposed that Christian education naturally nurture children's faith from an early age thru consistent teaching and example within the family and church community. Bushnell's thinking remains relevant, particularly in designing faith-based educational models that prioritize gradual spiritual growth over mere doctrinal instruction..   Abstrak Artikel ini mengkaji pemikiran Horace Bushnell tentang Pendidikan Agama Kristen sebagaimana dipaparkan dalam karyanya yang berpengaruh, The Christian Nurture. Metode yang digunakan adalah analisis kualitatif terhadap tulisan-tulisan Bushnell, didukung oleh tinjauan historis-kontekstual untuk memahami situasi sosial dan religius yang membentuk teori pendidikannya. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Bushnell menekankan peran keluarga dan komunitas dalam pertumbuhan iman anak secara organik, menentang tradisi revivalisme yang mengutamakan pertobatan mendadak. Bushnell mengusulkan agar pendidikan Kristen membina iman anak-anak secara alami sejak dini melalui pengajaran dan teladan yang konsisten dalam keluarga dan komunitas gereja. Pemikiran Bushnell tetap relevan, khususnya dalam merancang model pendidikan berbasis iman yang mengutamakan pertumbuhan rohani bertahap dibandingkan pengajaran doktrinal semata. Kata Kunci: Horace Bushnell, Pendidikan Agama Kristen, The Christian Nurture.
Dekonstruksi Teologis Sabat dalam Perjanjian Lama: Analisis Berbasis Taksonomi Bloom Menuju Pemaknaan Transformatif Mayner gulo; Raymond Iman Putra Gulo; Yaudi Santos Santoso
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The sabbath in the Old Testament is often understood normatively as a ritualistic legal obligation, which risks obscuring its deeper transformative theological significance for contemporary believers. This study aims to deconstruct the meaning of the sabbath through a biblical-theological approach by employing Bloom’s Taxonomy as an analytical framework encompassing cognitive, affective, and practical dimensions. The background of this research arises from the tension between legalistic interpretations of sabbath law and the contextual need to recover its relevance in modern life. The novelty of this study lies in the integration of a pedagogical framework (Bloom’s Taxonomy) into theological analysis, an approach that remains relatively underexplored in sabbath studies, thereby offering a more holistic interpretive perspective. The findings reveal that the sabbath functions not merely as a legal institutions but as a means of cultivating relationship with God, restoring human identity, and embodying social liberation. Therefore, the sabbath can be understood transformative as a rhythm of life that fosters justice, rest, and restoration within the context of contemporary faith.   Abstrak Sabat dalam Perjanjian Lama sering dipahami secara normatif sebagai kewajiban hukum yang bersifat ritualistik, sehingga berpotensi kehilangan dimensi teologis yang transformatif bagi kehidupan orang beriman masa kini. Penelitian ini bertujuan untuk mendekonstruksi pemaknaan Sabat melalui pendekatan  teologi biblika dengan memanfaatkan kerangka Taksonomi Bloom sebagai alat analisis kognitif, afektif, dan praksis. Latar belakang penelitian ini berangkat dari ketegangan antara pemahaman legalistik yang secara umum banyak dipahami terhadap hukum Sabat dan kebutuhan kontekstual untuk menghadirkan makna yang relevan dalam kehidupan modern. Kebaruan (novelty) penelitian ini terletak pada integrasi pendekatan pedagogis (Taksonomi Bloom) dalam analisis teologis, yang jarang digunakan dalam studi Sabat, sehingga membuka ruang interpretasi yang lebih holistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sabat tidak hanya berfungsi sebagai institusi hukum, melainkan sebagai sarana pembentukan relasi dengan Allah, pemulihan indentitas manusia, dan praksis pembebasan sosial. Dengan demikian, Sabat dapat dimaknai secara transformatif sebagai pola dan gaya hidup dari umat Allah yang menghadirkan keadilan, perhentian, dan pemulihan dalam konteks iman kontemporer. Kata Kunci: Sabat, Teologi Perjanjian Lama, Dekonstruksi, Taksonomi Bloom.
Hidup Benar Menurut Kitab Amsal dan Implikasinya bagi Pendidikan Kristen Masa Kini Ragil Kristiawan; Eunike Eka Putri
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1 (2025): EDISI NOVEMBER
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

21st-century Christian education faces a critical dichotomy between the demand for academic excellence and the mandate for character formation, exacerbated by the currents of globalization. This research stems from the urgent need for a theological foundation and pedagogical framework that can integrate faith and knowledge. Using a literature study method with a descriptive-analytical approach to the text of the Book of Proverbs, this research aims to: first, identify the constituent elements of the concept of "righteous living," and second, reconstruct it into a coherent educational paradigm. The results reveal that "righteous living" in Proverbs is a holistic system encompassing spiritual (fear of the LORD), moral, and practical dimensions. A synthesis of these findings successfully produced an integrative pedagogical framework that reconstructs educational goals, the role of educators, teaching methods, and curriculum content. Thus, this research not only offers a profound theological understanding but also provides an operational response to the dichotomy experienced in Christian education through an educational model that transforms students into individuals who are both academically competent and of noble character and social responsibility.   Abstrak Pendidikan Kristen abad ke-21 menghadapi dikotomi kritis antara tuntutan keunggulan akademis dan mandat pembentukan karakter, yang diperparah oleh arus globalisasi. Penelitian ini berangkat dari kebutuhan mendesak akan sebuah fondasi teologis dan kerangka pedagogis yang dapat mengintegrasikan iman dan ilmu pengetahuan. Melalui metode studi pustaka dengan pendekatan deskriptif-analitis terhadap teks Kitab Amsal, penelitian ini bertujuan untuk: pertama, mengidentifikasi unsur-unsur konstituen konsep "hidup benar", dan kedua, merekonstruksinya menjadi sebuah paradigma pendidikan yang koheren. Hasil penelitian mengungkap bahwa "hidup benar" dalam Amsal merupakan sebuah sistem holistik yang mencakup dimensi spiritual (takut akan TUHAN), moral, dan praksis. Sintesis atas temuan ini berhasil menghasilkan sebuah kerangka pedagogis integratif yang merekonstruksi tujuan pendidikan, peran pendidik, metode pengajaran, dan konten kurikulum. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menawarkan pemahaman teologis yang mendalam, tetapi juga memberikan jawaban operasional atas dikotomi yang dialami pendidikan Kristen melalui sebuah model pendidikan yang mentransformasikan peserta didik menjadi pribadi yang cakap akademis sekaligus berkarakter luhur dan bertanggung jawab sosial. Kata Kunci: Pendidikan Kristen; Hidup Benar; Kitab Amsal; Integrasi Iman
Literasi Digital sebagai Tanggung Jawab Etis Pendidik Kristen Andreas Kurniawan; Stefanus Dully; Tjutjun Setiawan
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1 (2025): EDISI NOVEMBER
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This topic is written because, factually, the digital ethics of theology students tend not to be based on the principles of truth. This phenomenon demands that Christian educators not only master technology, but also develop ethical awareness in its use. This article aims to examine what digital literacy looks like as an ethical responsibility for Christian educators in the context of theological education. The method used is a descriptive-analytical approach that focuses on literature review (library research) to understand the relationship between faith, ethics, and digitalization. The research question is formulated as: How is the ethical responsibility of Christian educators manifested in the use of digital technology? The findings of this study reveal that digital literacy needs to be understood as the spiritual and ethical dimension of the Christian educator's calling. Theology, church, and Christian educational institution curricula need to collaborate to build a wise, faithful, and responsible digital culture within digital society. ABSTRAK Dasariah topik ini ditulis karena secara faktual, etika berdigital mahasiswa teologi cenderung tidak mendasarkan pada prinsip prinsip kebenaran. Fenomena ini menuntut pendidik Kristen tidak hanya menguasai teknologi, tetapi bagaimana para pendidik memiliki kesadaran etis dalam penggunaannya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji seperti apa literasi digital sebagai tanggung jawab etis pendidik Kristen dalam konteks pendidikan teologi. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif-analitis yang berfokus pada kajian literatur (library research untuk memahami hubungan terkait iman, etika, dan digitalisasi. Rumusan pertanyaan penelitian difokuskan pada bagaimana tanggung jawab etis pendidik Kristen diwujudkan dalam penggunaan teknologi digital? Temuan hasil kajian ini menngungkapkan bahwa literasi digital perlu dipahami sebagai dimensi spiritual dan etis dari panggilan pendidik Kristen. Kurikulum teologi, gereja, dan lembaga pendidikan Kristen perlu berkolaborasi membangun budaya digital yang bijak, beriman, dan bertanggung jawab di tengah masyarakat digital. Kata kunci: Literasi Digital, Etika Kristen, Pendidikan Teologi, Pendidik Kristen.
Apakah Orang Benar tidak Ditimpa Malapetaka?:Sebuah Kajian Hermeneutik-Teologis Berdasarkan Amsal 12:21 Aska Aprilano Pattinaja; Eduard Th. de Walick,
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 1 (2025): EDISI NOVEMBER
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proverbs 12:21 states that "The righteous will have no calamity, but the wicked will always be in trouble." This statement seems to contradict the reality of life, where even the righteous experience suffering and hardship, while the wicked often enjoy success. This contradiction raises theological and hermeneutic questions about the true meaning of God's righteousness and providence in human life. The purpose of this study is to interpret Proverbs 12:21 in depth to find its moral and theological message in the context of believers' character building. The research gap lies in the tendency to interpret wisdom texts literally without paying attention to their theologist dimensions for practical life. Based on the hermeneutic-theological method, the results of this study show that first, Proverbs 12:21 affirms the moral principle of God's protection for the righteous who live with integrity; second, the term ra'ah (calamity) refers to the moral consequences of a misguided life; and third, righteousness in Proverbs emphasizes character building in harmony with God's wisdom. The implication of this study confirms that a correct understanding of the wisdom text will help believers build resilient character, integrity, and faithfulness to God in the midst of the reality of life that is not always easy.   Abstrak Amsal 12:21 menyatakan bahwa “Orang benar tidak akan ditimpa malapetaka, tetapi orang fasik akan senantiasa celaka.” Pernyataan ini tampak berkontradiksi dengan realitas hidup, di mana orang benar pun mengalami penderitaan dan kesulitan, sedangkan orang fasik sering menikmati keberhasilan. Kontradiksi ini menimbulkan pertanyaan teologis dan hermeneutik tentang makna sejati kebenaran dan pemeliharaan Allah dalam kehidupan manusia. Tujuan penelitian ini adalah menafsirkan Amsal 12:21 secara mendalam untuk menemukan pesan moral dan teologisnya dalam konteks pembentukan karakter orang percaya. Kesenjangan penelitian terletak pada kecenderungan menafsirkan teks hikmat secara harfiah tanpa memperhatikan dimensi teologis bagi kehidupan praktis. Berdasarkan metode hermeneutik-teologis, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertama, Amsal 12:21 menegaskan prinsip moral tentang perlindungan Allah bagi orang benar yang hidup berintegritas; kedua, istilah ra‘ah (malapetaka) menunjuk pada akibat moral dari kehidupan yang salah arah; dan ketiga, kebenaran dalam Amsal menekankan pembentukan karakter yang selaras dengan hikmat Allah. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa pemahaman yang benar terhadap teks hikmat akan menolong umat percaya membangun karakter tangguh, berintegritas, dan setia kepada Allah di tengah realitas hidup yang tidak selalu mudah. Kata Kunci: Amsal 12:21; Hermeneutik; Karakter Kristen; Penderitaan; Teologi Hikmat
Dinamika Relasi Guru-Murid: Reinterpretasi Konsep Discipleship dalam Menanggapi Krisis Karakter di Lingkungan Sekolah Desy Rambu
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The crisis of student character in schools manifests itself as resistance toward teachers, rooted in the failure of pedagogical relationships that tend to be instructional and legalistic. This study aims to: first, analyze the root causes of the student character crisis in relation to teachers through a theological-pedagogical lens; second, reinterpret the concept of discipleship as an alternative relational model in formal schools; and third, formulate a relational-transformative framework for Christian Religious Ed-ucation teachers in building spiritual closeness with students to mitigate resistant behavior. The meth-od used is a literature review examining relevant academic literature. The findings indicate that charac-ter restoration does not occur through disciplinary control, but rather through relationships that posi-tion the teacher as a disciple living in love, exemplary conduct, accompaniment, and contextual faith reflection. This study affirms that schools must be understood as spaces of discipleship that build char-acter through restorative relationships, while simultaneously encouraging teachers and educational in-stitutions to develop relational approaches as a response to the contemporary character crisis.   Abstrak Krisis karakter murid di sekolah muncul dalam bentuk resistensi terhadap guru yang berakar pada kegagalan relasi pedagogis yang cenderung instruksional dan legalistik. Penelitian ini bertujuan: pertama, menganalisis akar penyebab krisis karakter murid dalam relasi dengan guru melalui kacamata teologis-pedagogis; kedua, mereinterpretasi konsep discipleship sebagai model relasi alternatif di sekolah formal; dan ketiga, merumuskan kerangka model relasional-transformatif bagi guru Pendidikan Agama Kristen dalam membangun kedekatan spiritual dengan murid guna memitigasi perilaku resistensi. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan menelaah literatur akademik yang relevan. Temuan menunjukkan bahwa pemulihan karakter tidak terjadi melalui kontrol disiplin, melainkan melalui relasi yang menghadirkan guru sebagai pemurid yang hidup dalam kasih, keteladanan, pendampingan, dan refleksi iman kontekstual. Penelitian ini menegaskan bahwa sekolah perlu dipahami sebagai ruang pemuridan yang membangun karakter melalui relasi yang memulihkan, sekaligus mendorong guru dan institusi pendidikan mengembangkan pendekatan relasional sebagai respons terhadap krisis karakter kontemporer. Kata Kunci: Discipleship, Relasi Guru–Murid, Krisis Karakter.
Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Prestasi Belajar Siswa dalam Perspektif Teologis Kristen Hana Kharisia
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research analyzes the influence of gadget use on students' academic performance from a Christian theological perspective. The research problem proposed in this study is how the patterns and intensity of gadget use among students currently? This research uses a descriptive qualitative method with a literature study approach that analyzes various relevant journals, theses, and theological sources. The results of this study indicate that the use of gadgets has positive impacts, such as easy access to information and learning communication, and can enhance the quality of learning if used wisely and purposefully. However, it can also have negative effects if used excessively and uncontrollably, such as reducing concentration, motivation, health, and academic performance. In the Christian theological perspective, the use of gadgets is a matter of faith responsibility that must be managed wisely to become a means of glorifying God's name and supporting academic and spiritual growth, rather than the opposite. Therefore, the proper and wise management of gadgets will serve as a means to support students' academic achievements, thus requiring the active role of parents and teachers in guiding and supervising their use in a disciplined and responsible manner.   Abstrak Penelitian ini menganalisis pengaruh penggunaan gadget terhadap prestasi belajar siswa dengan tinjauan teologis Kristen. Rumusan masalah penelitian ini yang diajukan adalah bagaimana pola dan intensitas penggunaan gadget di kalangan siswa saat ini? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka yang menganalisis berbagai jurnal, skripsi, dan sumber teologis yang relevan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan gadget memiliki dampak positif, seperti kemudahan akses informasi dan komunikasi pembelajaran, serta dapat meningkatkan kualitas pembelajaran jika digunakan secara bijak dan terarah, namun juga berdampak negatif jika digunakan secara berlebihan dan tidak terkontrol, seperti menurunkan konsentrasi, motivasi, kesehatan, dan prestasi belajar. Dalam perspektif teologis Kristen, penggunaan gadget merupakan tanggung jawab iman yang harus dikelola secara bijaksana agar menjadi sarana memuliakan nama Tuhan dan mendukung pertumbuhan akademik serta rohani, bukan sebaliknya. Oleh karena itu, pengelolaan gadget secara tepat dan bijaksana akan menjadi sarana pendukung prestasi belajar siswa, sehingga diperlukan peran aktif orang tua dan guru dalam membimbing serta mengawasi penggunaannya secara disiplin dan bertanggung jawab. Kata Kunci: Gadget, Prestasi Belajar, Teologi Kristen, Digital.
Transformasi Profesionalitas Penatalayanan GPdI Antiokhia Tebet Melalui Pendidikan Teologis di Era Digital Maudy Elisabeth; Bondan Darmawan Abraham; Yudhi Herlianto Moerid
GLOSSAIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol. 1 No. 2 (2026): EDISI MEI
Publisher : STT Pantekosta Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research aims to analyze the transformation of professionalism in local church administration thru theological education in the digital era. The development of digital technology has significantly changed the patterns of communication, leadership, and church ministry. Local churches are required not only to have adequate theological understanding but also professional competence in managing technology-based ministries. However, there is still a gap between academic theological education and church management practices that are contextual and adaptive to digital developments. This study uses a descriptive qualitative approach with methods such as in-depth interviews, observations, and document studies. The research results show that theological education has an important contribution in shaping integrity, doctrinal competence, and service ethics. However, the transformation of professionalism is not yet optimal due to the lack of integration between the academic curriculum and practical digital skills in church ministry. The conclusion of this study emphasizes that the transformation of professionalism in local church ministry requires a synergy between spiritual formation, strengthening theological competence, and digital literacy.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi profesionalitas penatalayanan gereja lokal melalui pendidikan teologis di era digital. Perkembangan teknologi digital telah mengubah pola komunikasi, kepemimpinan, dan pelayanan gerejawi secara signifikan. Gereja lokal dituntut tidak hanya memiliki pemahaman teologis yang memadai, tetapi juga kompetensi profesional dalam mengelola pelayanan berbasis teknologi. Namun, masih ditemukan kesenjangan antara pendidikan teologis yang bersifat akademis dengan praktik penatalayanan gereja yang kontekstual dan adaptif terhadap perkembangan digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan teologis memiliki kontribusi penting dalam membentuk integritas, kompetensi doktrinal, dan etika pelayanan. Akan tetapi, transformasi profesionalitas belum optimal karena kurangnya integrasi antara kurikulum akademik dan keterampilan praktis digital dalam pelayanan gereja. Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa transformasi profesionalitas penatalayanan gereja lokal memerlukan sinergi antara pembinaan spiritual, penguatan kompetensi teologis, dan literasi digital. Kata Kunci: Profesionalitas, Penatalayanan Gereja, Transformasi Pelayanan

Page 1 of 2 | Total Record : 11