Kedangkalan ilmu agama remaja di perbatasan menyebabkan mudahnya remaja dalam tergiur mengikuti kegiatan orang non-muslim di kawasan perbatasan. Seperti saat hari raya natal dan tahun baru Masehi, kebiasaan masyarakat non-muslim merayakan dengan miras/alkohol. Remaja cenderung mengikuti kegiatan tersebut. Maka dari itu, pembinaan religiusitas remaja perbatasan menjadi hal yang pelu untuk diteliti. Penelitian ini mengangkat rumusan masalah berupa pemahaman religiusitas anak remaja rajin ibadah dan tidak, pelaksanaan pembinaan religiusitasnya, serta kendala dan solusi pembinaan religiusitas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode pengumpulan data yaitu triangulasi data. Pengumpulan data menggunakan instrumen wawancara, observasi, dan dokumentasi. Informan dalam penelitian ini adalah Remaja, Orang Tua Remaja, Tokoh Agama, Imam Masjid, Takmir Masjid di Kawasan Perbatasan Kabupaten Aceh Tenggara. Hasil penelitian ini mengangkat tiga rumusan yaitu pemahaman pembinaan religiusitas anak remaja yang aktif dan tidak aktif di kawasan perbatasan masih kurang. Pelaksanaan pembinaan religiusitas anak remaja di kawasan perbatasan Kabupaten Aceh Tenggara masih belum berjalan maksimal. Pembinaan yang masih aktif berjalan hanya TPA yang dilaksanakan oleh Ustadz/Ustadzah TPA yaitu pembinaan 1) membaca Al Qur’an dengan tartil dan maghorijul huruf yang benar, 2) praktik sholat, 3) fardu kifayah, 4) menulis Al Qur’an, 5) penghafalan do’a-do’a harian, 6) hafalan tentang bacaan sholat/ fardu kifayah. Pembinaan tokoh masyarakat dilakukan dengan pendekatan langsung dengan memantau langsung dan melaksanakan rapat kecil. Pembinaan yang dilakukan orang tua dengan: 1) memberikan Nasihat; 2) membiasakan solat 5 waktu; 3) memberikan fasilitas belajar di luar desa; 4) mengajak dan Memberikan teladan yang baik; 5) bersama-sama murojaah; 6) menanamkan sikap bahwa Allah itu nyata dan ada. Kendala dan solusi pembinaan religiusitas anak remaja di kawasan perbatasan Kabupaten Aceh Tenggara yaitu motivasi remaja turun, kurangnya dukungan orang tua, kurangnya sumbangan sedekah masyarakat, ditiadakannya da’i perbatasan. Solusinya dengan memotivasi orang tua percaya akan kegiatan remaja.
Copyrights © 2022