Perkembangan teknologi kecerdasan buatan telah memunculkan fenomena deepfake yang secara signifikan mengubah lanskap komunikasi digital dan praktik kehumasan. Deepfake tidak hanya menghadirkan inovasi visual, tetapi juga menimbulkan krisis kepercayaan publik akibat meningkatnya potensi manipulasi informasi, serangan reputasi, dan disinformasi terstruktur. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana deepfake mempengaruhi kredibilitas institusi, serta menelaah strategi humas dalam menjaga dan memulihkan reputasi di era ketidakpastian digital. Metode yang digunakan adalah studi literatur terhadap penelitian lima tahun terakhir yang membahas isu deepfake, kepercayaan publik, manajemen krisis, dan reputasi digital. Hasil kajian menunjukkan bahwa deepfake telah menjadi ancaman strategis bagi legitimasi organisasi karena kemampuannya meniru suara, wajah, dan perilaku tokoh publik secara realistis sehingga memicu kerentanan terhadap misinformasi dan rekayasa citra. Temuan juga mengungkap bahwa efektivitas peran humas sangat bergantung pada kecepatan deteksi, transparansi komunikasi krisis, serta penguatan literasi digital publik. Oleh karena itu, humas perlu mengintegrasikan pendekatan berbasis teknologi, etika komunikasi, dan manajemen risiko untuk membangun ketahanan reputasi yang berkelanjutan di tengah ekosistem informasi yang semakin rentan terhadap manipulasi.
Copyrights © 2025