Salah satu kekhawatiran yang paling dominan masyarakat dunia pada umumnya dan warga Hong Kong pada khususnya atas rencana pengembalian Hong Kong ke Cina pada tanggal 1 Juli 1997 nanti ialah menyangkut praktik demokrasi. Banyak orang khawatir, sekembalinya Hong Kong ke Cina nanti akan tertandai dengan mandegnya praktik demokrasi di kalangan masyarakatnya.      Kekhawatiran tersebut antara lain ditunjukkan dengan telah dipe-ringatinya Tragedi Tiananmen yang dihadiri oleh puluhan ribu warga Hong Kong beberapa waktu yang lalu. Tepatnya tanggal 4 Juni 1997 yang lalu ditaksir sekitar 55 ribu warga Hong Kong telah berduyun-duyun datang di Victoria Garden secara berkelompok untuk memperi-ngati Tragedi Tiananmen delapan tahun silam, tepatnya tanggal 4 Juni 1989. Seperti diketahui pada peristiwa 1989 tersebut terdapat puluhan, bahkan konon ratusan, mahasiswa prodemokrasi Cina harus kehilang-an nyawa karena terbunuh oleh "bapaknya" sendiri. Tentara Komunis Cina saat itu tidak segan-segan "menumpas" sekelompok rakyat Cina yang sedang mengadakan aksi demokrasi di Lapangan Tiananmen.      Tragedi Tiananmen itu oleh masyarakat dunia dianggap sebagai simbol dari mandegnya praktik demokrasi di Cina (Daratan); yang selanjutnya oleh warga Hong Kong dikhawatirkan akan berulang lagi ketika nantinya Hong Kong sudah kembali ke pangkuan Cina. Mereka khawatir hak-hak demokrasi masyarakat akan terpasung oleh demikian kuatnya dominasi politik para pejabat Cina. Dominasi politik di Cina memang seringkali kurang mau mendengarkan kritik-kritik demokrasi yang dilontarkan oleh masyarakat dunia.      Peringatan Tragedi Tiananmen di Hong Kong tersebut nampak-nya telah memberi isyarat kepada Beijing agar kelak hati-hati di dalam menjalankan praktik-praktik demokrasi.
Copyrights © 1997