Usaha tempe skala rumahan merupakan bagian integral dari sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang memainkan peran penting dalam menjaga ketahanan pangan serta menopang perekonomian lokal. Namun, masih banyak pelaku usaha kecil seperti Bapak Suardi, yang menjalankan usaha tempe rumahan di Jl. A. Ghofar, Talang Keramat Raya, Kabupaten Banyuasin, belum memiliki kemampuan manajerial yang memadai dalam menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) secara akurat. Ketidaktahuan terhadap struktur biaya menyeluruh seringkali menyebabkan harga jual ditetapkan di bawah biaya produksi, sebagaimana ditemukan dalam studi ini bahwa HPP tempe mencapai Rp7.800 per bungkus, sementara harga jual sebelumnya hanya Rp5.000. Kondisi ini menyebabkan usaha mengalami kerugian tersembunyi yang berkelanjutan. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat berbasis studi kasus dan pendekatan partisipatif, dilakukan serangkaian intervensi seperti observasi langsung, wawancara, pelatihan metode full costing, serta pendampingan pencatatan biaya produksi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam akurasi penetapan harga serta pertumbuhan margin keuntungan hingga 20%, sejalan dengan temuan Prihanisetyo (2025) dan Kumbara et al. (2022). Tidak hanya aspek teknis yang mengalami perbaikan, kegiatan ini juga mendorong transformasi sosial ekonomi, dengan meningkatnya literasi keuangan keluarga dan keterlibatan aktif anggota keluarga dalam manajemen usaha. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan pemberdayaan berbasis keluarga dalam penguatan UMKM. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan solusi teknis atas permasalahan usaha, tetapi juga membangun fondasi pemberdayaan berkelanjutan di tingkat rumah tangga.Kata Kunci: Harga Pokok Produksi, UMKM, Tempe, Full Costing, Pengabdian Masyarakat, BanyuasinÂ
Copyrights © 2025