Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang semakin progresif menghadirkan transformasi besar dalam peradaban manusia sekaligus menimbulkan persoalan fundamental dalam teologi, khususnya berkaitan dengan konsep Imago Dei yang menegaskan manusia sebagai gambar Allah. Tujuan dari penelitian ini adalah menyingkap keterkaitan antara pemahaman Imago Dei dengan kemajuan AI, menganalisis dimensi etika teknologi dan tanggung jawab teologis dalam pengembangannya, serta menegaskan perbedaan hakiki antara kecerdasan buatan dan kapasitas spiritual manusia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu suatu pendekatan yang dilakukan dengan cara menelusuri dan memahami kembali secara kritis berbagai sumber yang ada. Research ini menemukan bahwa kecerdasan buatan, meskipun mampu meniru proses berpikir dan memfasilitasi kehidupan manusia, tetap tidak memiliki dimensi transendental yang memungkinkan relasi personal dengan Allah. Gagasan ini tidak dapat direduksi hanya pada kecerdasan intelektual, tetapi mencakup kapasitas spiritual, moral, dan relasional yang unik bagi manusia. Oleh karena itu, keterlibatan teologi dalam diskursus teknologi menjadi mutlak supaya AI tidak menjadi ancaman yang mereduksi identitas manusia, melainkan sarana yang meneguhkan martabatnya sebagai gambar Allah serta memperluas cakrawala pemahaman tentang tanggung jawab manusia dalam mengelola ciptaan.
Copyrights © 2026