Pembebasan dari hukum dosa dan maut merupakan pengalaman esensial dalam kehidupan iman orang percaya pada gereja masa kini. Permasalahan utama terletak pada kesenjangan antara pemahaman teoretis tentang pembebasan spiritual dan implementasinya dalam kehidupan gereja, yang mengakibatkan spiritualitas superfisial dan irelevansi gereja terhadap tantangan kontemporer. Penelitian ini bertujuan menghadirkan eksegesis komprehensif terhadap Roma 8:2 dan menjelaskan implikasinya bagi pembentukan paradigma eklesiologi transformasional, yakni model gereja yang hidup oleh kuasa Roh dan menghadirkan transformasi dalam kehidupan. Kajian ini menerapkan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis studi literatur melalui analisis eksegesis, historis, linguistik, dan teologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Roma 8:2 mengungkapkan lima dimensi teologis fundamental: realitas soteriologis definitif, pneumatologi transformasional, kristologi inklusif, hamartologi sistemik, dan eskatologi “sudah–belum sepenuhnya.” Temuan ini menunjukkan bahwa gereja perlu dipahami sebagai komunitas eskatologis yang hidup dalam “hukum Roh kehidupan,” bukan sekadar institusi religius. Kesimpulan mengonfirmasi bahwa pembebasan melalui karya Roh Kudus dalam Roma 8:2 membentuk fondasi eklesiologi transformasional yang mampu menjawab krisis spiritual, moral, dan sosial gereja kontemporer.
Copyrights © 2026