Keingintahuan atau curiosity merupakan motivasi intrinsik dalam diri manusia untuk mengembangkan potensi dan pemahaman yang kompleks. Menurut Sylvan Tomkins (1962), ketiadaan rasa ingin tahu atau curiosity dapat membahayakan intelektualitas dan kehancuran jaringan otak manusia (Barbarossa et al., 2017; Kashdan et al., 2009). Namun, realitasnya hanya segelintir orang yang tertarik mendalami rasa ingin tahunya, khususnya pada pelajar dan mahasiswa. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengukur intensitas rasa ingin tahu pada pelajar dan mahasiswa. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Instrumen berupa skala curiosity (22 item) yang mengacu kepada aspek Curiosity menurut Peterson & Seligman. Subjek penelitian sebanyak (596 orang) pelajar tingkat SMA dan Mahasiswa yang dipilih secara random sampling. Berdasarkan hasil analisis data banyaknya subjek yang memiliki rasa ingin tahu yang sedang. Mereka yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi hanya mencapai 14,6% dari seluruh responden. Jika menggunakan data komposit baik itu menggunakan uji Spearman, Pearson atau Scale itu hanya satu aitem < 0,3 atau memiliki daya beda yang buruk. Sedangkan jika menggunakan data tunggal dan Spearman ada 4 aitem yang memiliki daya beda yang buruk. Sementara itu jika Scale dan Pearson yang digunakan maka ada 3 aitem yang memiliki daya beda yang buruk. Dilihat dari hasil confirmatory factor analysis menggunakan bantuan program Lisrel, total aitem yang gugur ada 7 aitem pada dimensi satu, 1 item di dimensi 2 dan 3. Menyisakan 13 aitem. Sementara itu jika dilihat dari analisis eksploratory, seharusnya konstruk curiosity ini memiliki 6 dimensi dan nilai KMO > 0,5. Nilai reliabilitas yang diuji pun sudah memenuhi kriteria reliabel.
Copyrights © 2026