Tuberkulosis (TB) tetap menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang mendesak secara global. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2019 diperkirakan terdapat 10 juta kasus baru TB, dengan India dan Indonesia menempati peringkat tertinggi secara berurutan, mengindikasikan kondisi kesehatan masyarakat yang rentan. Meskipun terjadi penurunan kasus baru sebesar 9% dan penurunan kumulatif kasus sebesar 20% antara tahun 2019-2020, laju penurunan ini dinilai belum memadai untuk mencapai target Strategi END TB.Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) dan melibatkan 121 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Analisis statistik menggunakan uji chi-square, diikuti oleh analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur merupakan variabel independen yang paling signifikan (p-value < 0,05), dan dalam analisis multivariat, umur terbukti menjadi faktor paling dominan dalam memengaruhi kepatuhan minum obat dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 31,249.Faktor-faktor lain yang turut memengaruhi kepatuhan minum obat mencakup jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan responden. Profil responden yang paling banyak menunjukkan ketidakpatuhan, pengetahuan kurang, dan mayoritas berada pada kelompok usia dewasa, berjenis kelamin laki-laki, dan berstatus bekerja. Studi ini menyoroti perlunya intervensi yang menargetkan faktor-faktor dominan ini untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan TB.
Copyrights © 2026