Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Peningkatan Kualitas Layanan Laboratorium dalam Upaya Meningkatkan Kepuasan Pasien di Puskesmas Awal Terusan Kecamatan SP Padang Kabupaten Ogan Komering Ilir Ajeng Rifnida Husmi; Nugi Nurdin; Sri Utari
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 5 No. 3 (2025): November: Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v5i3.6134

Abstract

Laboratory services are an essential part of primary health care in community health centers (puskesmas). High-quality services support accurate diagnosis, timely treatment, and public trust. However, the 2024 community satisfaction survey indicated that the laboratory services at Puskesmas Awal Terusan still face several challenges, particularly in service speed and responsiveness to complaints. This study aims to analyze the quality of laboratory services from the perspective of service users and its relationship with patient satisfaction. The research used a quantitative approach with a cross-sectional design. Data were collected through questionnaires from 98 respondents who had used the laboratory services and were analyzed using descriptive and bivariate analyses (Chi-Square test and simple logistic regression). The results showed that, in general, the quality of services was rated as good, especially in terms of staff empathy, accuracy of results, and implementation of occupational safety. However, there were limitations in equipment availability, long waiting times for results, and low responsiveness to patient complaints, with the indicator “Handling of Complaints, Suggestions, and Feedback” receiving the lowest score in the survey. It can be concluded that the quality of laboratory services at Puskesmas Awal Terusan is generally good but still not optimal. Improvements in staff competence, equipment availability, and the complaint-handling system are needed to enhance patient satisfaction.
Edukasi dan Deteksi Dini Skizofrenia Berbasis Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Talang Jaya Betung Tahun 2025 Wikesy Wikesy; Elvi Sunarsih; Sri Utari
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2026): Maret : Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v6i1.6433

Abstract

Schizophrenia is a chronic mental disorder that significantly impacts social functioning, quality of life, and burdens families and communities. According to data from the Talang Jaya Betung Community Health Center, the number of schizophrenia cases increased from 45 in 2021 to 60 in 2024. This situation highlights the need for promotive and preventive efforts focused on improving public understanding of risk factors and the importance of early detection of schizophrenia. This community service activity aims to increase public and family knowledge about schizophrenia, its risk factors, and prevention efforts through a family-based educational approach. The implementation methods included mental health education, interactive discussions, distribution of educational media, and initial screening for schizophrenia risk factors in the community within the Talang Jaya Betung Community Health Center's work area. The target group was families with members at risk of mental disorders and the general public. Results showed increased public knowledge regarding the signs and symptoms of schizophrenia, risk factors such as family income, parenting styles, and family history, and increased awareness of the importance of the family's role in the prevention and early detection of schizophrenia. Furthermore, this activity also strengthens the role of health cadres in promoting mental health in the community. This community service activity is expected to contribute to reducing the risk of schizophrenia by strengthening the role of families and communities, as well as supporting community health center programs in promotive and preventive mental health efforts.
Analisis Determinan Kejadian Anemia Ibu Hamil di Wilayah Kerja Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2025 Eka Suryati; Faiza Yuniati; Sri Utari; Fika Minata Wathan
Jurnal Kesehatan Amanah Vol. 10 No. 1 (2026): Mei: Jurnal Kesehatan Amanah
Publisher : Universitas Muhammadiyah Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57214/jka.v10i1.1081

Abstract

Globally, anemia among pregnant women remains a major public health problem, with a prevalence of 41.8% in 2024 according to WHO data. In Indonesia, the incidence of anemia in pregnancy continues to increase, affecting both maternal and fetal health. Therefore, further analysis of the determinants influencing anemia among pregnant women is necessary. This study aimed to analyze risk factors associated with anemia and identify the dominant factor among pregnant women in the Working Area of Ogan Komering Ilir Regency in 2025. This research employed an analytical observational design with a cross-sectional approach, involving 110 pregnant women attending Muara Burnai, Kutaraya, and Rantau Durian Community Health Centers from July to August 2025, using Accidental Sampling technique. The results showed that most respondents were aged 20 years, had higher education, poor knowledge, income below the regional minimum wage, low family support, poor compliance with iron tablet consumption, and suboptimal ANC visit achievement. Significant associations were found between age, education, knowledge, family support, pregnancy interval, iron tablet adherence, and ANC visit achievement with anemia incidence, while occupation, income, and healthcare workers’ roles were not significantly related. The most dominant factor influencing anemia was ANC visit achievement. Improving ANC compliance and nutrition education should be prioritized to reduce the incidence of anemia among pregnant women.
A Analisis Kepuasan Pasien Hemodialisis Pada Pelayanan Hemodialisis Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Rivai Abdullah Palembang Tahun 2025 Okta Susrawita; Yuli Hartati; Sri Utari; Fika Minata
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.462

Abstract

Pelayanan administrasi memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas pelayanan di rumah sakit agar tercipta pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan adil bagi semua pasien. Pelayanan administrasi yang baik akan membantu mempercepat proses pendaftaran, pengelolaan data pasien, serta koordinasi antar unit pelayanan kesehatan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian adalah 100 responden, ditambah 10 responden sehingga total menjadi 110 pasien hemodialisis. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel serta faktor yang paling dominan memengaruhi kepuasan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dimensi assurance (jaminan pelayanan) dengan kepuasan pasien hemodialisis (p-value = 0,000). Selain itu, dimensi lain seperti reliability, responsiveness, dan empathy juga memberikan kontribusi terhadap tingkat kepuasan pasien meskipun tidak semuanya signifikan secara statistik. Setelah dilakukan pengendalian variabel, terdapat beberapa variabel independen yang tetap bermakna, salah satunya adalah paritas. Analisis multivariat memperlihatkan bahwa variabel assurance merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kepuasan pasien dengan nilai OR sebesar 8,205. Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan jaminan pelayanan yang baik memiliki peluang lebih besar untuk merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan. Untuk meningkatkan kepuasan pasien, rumah sakit perlu memperbaiki kualitas pelayanan secara menyeluruh, terutama pada dimensi yang dinilai masih kurang baik oleh pasien. Salah satunya adalah fasilitas rumah sakit, misalnya penataan ruang rawat jalan yang dinilai belum rapi, kenyamanan ruang tunggu, serta kebersihan lingkungan pelayanan yang perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.
A Analisis Kepuasan Pasien Hemodialisis Pada Pelayanan Hemodialisis Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Rivai Abdullah Palembang Tahun 2025 Okta Susrawita; Yuli Hartati; Sri Utari; Fika Minata
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 2 (2026): April - Juni
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i2.462

Abstract

Pelayanan administrasi memiliki peran penting dalam mendukung aktivitas pelayanan di rumah sakit agar tercipta pelayanan kesehatan yang aman, berkualitas, dan adil bagi semua pasien. Pelayanan administrasi yang baik akan membantu mempercepat proses pendaftaran, pengelolaan data pasien, serta koordinasi antar unit pelayanan kesehatan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain survei analitik dan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian adalah 100 responden, ditambah 10 responden sehingga total menjadi 110 pasien hemodialisis. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara purposive sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Data dianalisis menggunakan analisis univariat, bivariat, dan multivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel serta faktor yang paling dominan memengaruhi kepuasan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara dimensi assurance (jaminan pelayanan) dengan kepuasan pasien hemodialisis (p-value = 0,000). Selain itu, dimensi lain seperti reliability, responsiveness, dan empathy juga memberikan kontribusi terhadap tingkat kepuasan pasien meskipun tidak semuanya signifikan secara statistik. Setelah dilakukan pengendalian variabel, terdapat beberapa variabel independen yang tetap bermakna, salah satunya adalah paritas. Analisis multivariat memperlihatkan bahwa variabel assurance merupakan faktor yang paling dominan memengaruhi kepuasan pasien dengan nilai OR sebesar 8,205. Hal ini menunjukkan bahwa pasien yang mendapatkan jaminan pelayanan yang baik memiliki peluang lebih besar untuk merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan. Untuk meningkatkan kepuasan pasien, rumah sakit perlu memperbaiki kualitas pelayanan secara menyeluruh, terutama pada dimensi yang dinilai masih kurang baik oleh pasien. Salah satunya adalah fasilitas rumah sakit, misalnya penataan ruang rawat jalan yang dinilai belum rapi, kenyamanan ruang tunggu, serta kebersihan lingkungan pelayanan yang perlu ditingkatkan secara berkelanjutan.
Analisis Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien TB Paru Levi; Maksuk; Sri Utari; Elvi Sunarsih
Jurnal Kesehatan Qamarul Huda Vol. 14 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Universitas Qamarul Huda Badaruddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37824/jkqh.v14i1.2026.1117

Abstract

Tuberkulosis (TB) tetap menjadi permasalahan kesehatan masyarakat yang mendesak secara global. Berdasarkan data WHO, pada tahun 2019 diperkirakan terdapat 10 juta kasus baru TB, dengan India dan Indonesia menempati peringkat tertinggi secara berurutan, mengindikasikan kondisi kesehatan masyarakat yang rentan. Meskipun terjadi penurunan kasus baru sebesar 9% dan penurunan kumulatif kasus sebesar 20% antara tahun 2019-2020, laju penurunan ini dinilai belum memadai untuk mencapai target Strategi END TB.Penelitian ini menggunakan survei analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) dan melibatkan 121 responden yang dipilih melalui teknik total sampling. Analisis statistik menggunakan uji chi-square, diikuti oleh analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur merupakan variabel independen yang paling signifikan (p-value < 0,05), dan dalam analisis multivariat, umur terbukti menjadi faktor paling dominan dalam memengaruhi kepatuhan minum obat dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar 31,249.Faktor-faktor lain yang turut memengaruhi kepatuhan minum obat mencakup jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan pengetahuan responden. Profil responden yang paling banyak menunjukkan ketidakpatuhan, pengetahuan kurang, dan mayoritas berada pada kelompok usia dewasa, berjenis kelamin laki-laki, dan berstatus bekerja. Studi ini menyoroti perlunya intervensi yang menargetkan faktor-faktor dominan ini untuk meningkatkan kepatuhan pengobatan TB.
Analisis Faktor Resiko Keberhasilan Tingkat Penyembuhan TB Paru Wilayah Puskesmas Awal Terusan Kabupaten Ogan Komering Ilir Tahun 2025: Penelitian Meta Meta; Elvi Sunarsih; Fika Minata Watahan; Sri Utari
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 4 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 4 Tahun 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i4.7011

Abstract

Tuberkulosis (TB) Paru merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kabupaten Ogan Komering Ilir. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi kebijakan penanggulangan TB Paru di Puskesmas Awal Terusan Kabupaten Ogan Komering Ilir. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Informan penelitian berjumlah 9 orang yang terdiri dari pihak Dinas Kesehatan, Kepala Puskesmas, pengelola program TB, tenaga kesehatan, dan tenaga farmasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Analisis data menggunakan metode Colaizzi dan analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan penanggulangan TB Paru telah berjalan sesuai RPJMN 2020–2024 serta didukung SOP, juklak, dan juknis yang jelas. Program juga didukung komitmen lintas sektor antara Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan stakeholder terkait. Namun, pelaksanaan program belum optimal karena masih terdapat kendala berupa keterbatasan SDM, kurang aktifnya PMO dan kader kesehatan, belum tersedianya laboratorium TCM, kendala distribusi obat, serta stigma masyarakat terhadap penderita TB.