Talasemia merupakan penyakit herediter akibat gangguan produksi hemoglobin (Hb) yang diwariskan secara autosomal resesif. Kondisi ini masih menjadi isu kesehatan di Indonesia. Pada kehamilan, Talasemia dapat meningkatkan risiko komplikasi maternal maupun janin, sehingga skrining memiliki peran krusial. Seorang perempuan berusia 26 tahun dengan riwayat transfusi darah berulang baru terdiagnosis Talasemia Beta Mayor setelah hamil. Selama hamil, pasien menjalani transfusi darah rutin setiap dua minggu dan pemeriksaan kehamilan rutin. Persalinan secara pervaginam pada usia kehamilan 39 minggu. Bayi memerlukan perawatan intensif akibat distress napas dan ikterus neonatorum. Kasus ini menyoroti lemahnya deteksi dini melalui skrining pra-nikah yang seharusnya mampu mencegah kehamilan berisiko tinggi. Kehamilan dengan Talasemia Beta Mayor tergolong risiko tinggi akibat anemia berat pada ibu. Skrining Talasemia pra-nikah perlu dilaksanakan secara menyeluruh untuk menekan komplikasi maternal dan neonatal.
Copyrights © 2026