Sambung pucuk (grafting) merupakan salah satu perbanyakan secara vegetatif yang dikembangkan untuk perbanyakan tanaman alpukat. Beberapa faktor yang sangat mempengaruhi keberhasilan dalam memproduksi bibit dengan metode grafting yaitu, (1) Faktor tanaman (genetik, kondisi tumbuh, panjang entres). (2) Faktor lingkungan (ketajaman/kesterilan alat, waktu pelaksanaan grafting (pagi, siang, sore hari). (3) Faktor keterampilan orang yang melakukan grafting. (4) Panjang entris berkaitan dengan kecukupan cadangan makanan/energi untuk pemulihan sel-sel yang rusak akibat pelukaan dan (5) kondisi iklim dan cuaca. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kayulompa, Kecamatan Basidondo, Kabupaten Toli-Toli. Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai Desember 2022. Alat yang digunakan yaitu gunting, pisau atau cutter, plastik sungkup, tali plastik, blender, kertas lebel, penggaris, timbangan, saringan, wadah, gelas plastik, gelas ukur, jangka sorong, kertas millimeter blok, kamera dan alat tulis. Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah batang bawah tanaman alpukat, entris alpukat varietas mentega, taoge kacang hijau dan air. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) satu faktor yaitu penggunaan ekstrak taoge. P0 = tanpa ekstrak taoge, P1 = ekstrak taoge (10ml/tanaman), P2 = ekstrak taoge ( 20 ml/tanaman) P3 = ekstrak taoge (30 ml/tanaman) dan P4 ekstrak taoge (40 ml/tanaman). Terdapat 5 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang tiga kali sehingga terdapat 15 unit percobaan, setiap perlakuan terdapat tiga bibit tanaman sehingga diperoleh 45 bibit tanaman. Hasil penelitian menunjukkan pada perlakuan P1 ekstrak taoge (10ml/tanaman) cenderung memberikan pengaruh nyata terhadap parameter panjang tunas, jumlah daun dan diameter batang.
Copyrights © 2026