Artikel ini mengkaji fenomena iman orang muda Katolik (OMK) yang semakin dipahami sebagai identitas formal semata di era digital. Arus digitalisasi yang melanda kehidupan generasi muda menghadirkan berbagai daya tarik yang kompetitif terhadap kehadiran dan penghayatan iman dalam Gereja. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur, penelitian ini menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan pergeseran penghayatan iman OMK dari yang bersifat eksistensial menuju formalitas identitas belaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa budaya digital, media sosial, dan tekanan identitas sosial menjadi faktor utama yang melemahkan keterlibatan aktif orang muda dalam kehidupan menggereja. Studi ini juga menelaah dokumen Christus Vivit (2019) sebagai tawaran pastoral Gereja untuk merespons krisis tersebut. Kesimpulannya, Gereja perlu melakukan pembaruan pastoral yang kontekstual dan dialogis agar iman OMK tidak sekadar menjadi label identitas, melainkan sungguh menjadi kekuatan hidup yang transformatif di era digital.
Copyrights © 2026