Tradisi Ruwah Desa di Desa Sedengan Mijen, Kecamatan Krian, Kabupaten Sidoarjo, memiliki kekhasan budaya dengan mewajibkan kehadiran Tumpeng Tempe sebagai syarat mutlak dan ikon utama ritual. Penelitian kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk membongkar makna simbolik Tumpeng Tempe dalam ritual Ruwah Desa, guna melihat bagaimana masyarakat mengonstruksi identitas ekonomi mereka ke dalam sebuah tradisi keagamaan dan kebudayaan. Data penelitian diperoleh melalui teknik observasi, wawancara mendalam bersama dua informan yang terlibat aktif sejak awal tradisi, serta dokumentasi, yang kemudian dianalisis melalui lensa teori Interaksionisme Simbolik dari George Herbert Mead dan Herbert Blumer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tempe mengalami pergeseran makna dari entitas profan berupa lauk-pauk harian menjadi medium komunikasi spiritual yang sakral. Tumpeng Tempe dimaknai sebagai representasi identitas kolektif desa sentra perajin tempe, lambang kesederhanaan, serta wujud rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Bentuk kerucut pada tumpeng secara khusus melambangkan komunikasi vertikal untuk penyampaian doa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Rangkaian prosesi adat ini juga berfungsi sebagai media komunikasi sosiokultural yang memperkuat gotong royong dan solidaritas warga. Meskipun demikian, arus modernisasi memunculkan tantangan nyata berupa menurunnya pemahaman filosofis dan antusiasme partisipasi generasi muda, sehingga sangat diperlukan upaya pewarisan dan pelestarian yang berkesinambungan agar identitas lokal ini tetap lestari.
Copyrights © 2026