Ketersediaan informasi medis dapat mempengaruhi keakuratan kode. Ditemukan 13 (48,15%) kode DM yang tidak akurat dan ketersediaan informasi medis yang lengkap belum mencapai 100%. Informasi medis tersebut adalah pemeriksaan fisik tersedia 37,03%, pemeriksaan laboratorium tersedia 70,38%, dan diagnosis tersedia 3,7%. Ketidakakuratan kode berdampak pada kualitas data morbiditas yang buruk. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara ketersediaan informasi medis dan akurasi kode diagnosis DM. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian ini adalah rekam medis rawat inap tahun 2022 berdiagnosis DM, sampel berjumlah 235 rekam medis yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Persentase ketersediaan informasi medis anamnesis 76,17%, pemeriksaan fisik 96,17%, pemeriksaan laboratorium 17,87%, dan diagnosis 0,43%. Kode diagnosis DM yang tidak akurat berjumlah 97,02% (228 rekam medis). Uji statistik menggunakan uji korelasi koefisien kontingensi. Hasil uji menunjukkan dari ketersediaan 4 variabel (anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan diagnosis), hanya variabel diagnosis yang memiliki hubungan dengan keakuratan kode DM dengan p 0,000 < 0,05 dan koefisien kontingensi 0,350. Kesimpulan, ketersediaan informasi medis diagnosis memiliki hubungan yang signifikan dengan keakuaratan kode DM. Peningkatan audit kelengkapan informasi medis terutama ketersediaan dan konsistensi diagnosis secara lengkap serta keterampilan koder perlu ditingkatkan karena berhubungan dengan keakuratan kode.
Copyrights © 2024