Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi diversifikasi konsumsi pangan terhadap pengendalian inflasi pangan di Indonesia selama periode 2019–2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menggunakan data deret waktu sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia. Regresi linier berganda diterapkan untuk menguji hubungan antar variabel, dengan inflasi pangan sebagai variabel dependen, sedangkan diversifikasi konsumsi pangan, produksi pangan domestik, dan nilai tukar IDR/USD digunakan sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diversifikasi konsumsi pangan memiliki pengaruh negatif dan signifikan secara statistik terhadap inflasi pangan pada tingkat signifikansi 10 persen. Hasil ini menunjukkan bahwa diversifikasi yang lebih besar dalam pola konsumsi pangan rumah tangga dapat membantu mengurangi tekanan inflasi pangan. Struktur konsumsi yang lebih beragam mengurangi ketergantungan pada komoditas pangan tertentu, sehingga menurunkan risiko fluktuasi harga. Sebaliknya, produksi pangan domestik dan nilai tukar tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap inflasi pangan selama periode pengamatan. Koefisien determinasi (R²) sebesar 0,717 menunjukkan bahwa model tersebut menjelaskan 71,7 persen variasi inflasi pangan. Studi ini menyimpulkan bahwa diversifikasi konsumsi pangan berpotensi menjadi instrumen struktural untuk mendukung stabilitas harga pangan di Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan yang mendorong konsumsi pangan yang lebih beragam harus terus diperkuat sebagai pelengkap langkah-langkah pengendalian inflasi yang ada, yang sebagian besar berfokus pada sisi penawaran.Abstrak:Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi diversifikasi konsumsi pangan terhadap pengendalian inflasi pangan di Indonesia selama periode 2019–2025. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan memanfaatkan data sekunder berbentuk deret waktu (time series) yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia. Analisis dilakukan melalui metode regresi linier berganda, dengan inflasi pangan sebagai variabel dependen, sedangkan diversifikasi konsumsi pangan, produksi pangan domestik, dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat digunakan sebagai variabel independen. Hasil analisis menunjukkan bahwa diversifikasi konsumsi pangan berpengaruh negatif terhadap inflasi pangan dan signifikan pada tingkat signifikansi 10 persen. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin beragam pola konsumsi pangan masyarakat, semakin kecil tekanan inflasi pangan yang terjadi. Kondisi tersebut mencerminkan berkurangnya ketergantungan masyarakat terhadap komoditas pangan tertentu sehingga risiko gejolak harga dapat diminimalkan. Di sisi lain, produksi pangan domestik dan nilai tukar rupiah tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap inflasi pangan selama periode pengamatan. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,717 menunjukkan bahwa model penelitian mampu menjelaskan 71,7 persen variasi inflasi pangan. Berdasarkan hasil tersebut, penelitian ini menyimpulkan bahwa diversifikasi konsumsi pangan memiliki potensi sebagai salah satu instrumen struktural dalam mendukung stabilitas harga pangan di Indonesia. Oleh karena itu, kebijakan penganekaragaman konsumsi pangan perlu terus diperkuat sebagai pelengkap berbagai strategi pengendalian inflasi yang selama ini lebih banyak berorientasi pada sisi penawaran.
Copyrights © 2026