Penelitian ini mengeksplorasi peran dan manajemen ekstrakurikuler keagamaan dalam membentuk karakter digital siswa (kejujuran digital, empati sosial, tanggung jawab) untuk merespons patologi moral era siber seperti cyberbullying. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif, data dikumpulkan dari dua puluh delapan informan di empat SMA Kota Bandung melalui teknik wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan observasi siber. Data tersebut dianalisis secara komprehensif menggunakan Teori Belajar Sosial (Bandura) serta konsep pembiasaan Riyadhah (Al-Ghazali). Hasil penelitian menunjukkan empat temuan: (1) manajemen ekstrakurikuler beradaptasi melalui sistem hibrida dan evaluasi perilaku; (2) internalisasi tanggung jawab bermula dari pemaksaan struktural (Riyadhah) yang bertransformasi menjadi kesadaran etis murni; (3) efektivitas narasi tandingan di ruang digital terancam oleh fenomena burnout relawan konten; dan (4) peer modeling teridentifikasi mendukung pembentukan kendali sosial internal, namun transmisi moralnya terhambat persepsi eksklusivitas. Kesimpulannya, pembentukan karakter digital membutuhkan upaya restrukturisasi beban kerja media sosial serta transformasi paradigma dakwah yang lebih inklusif di lingkungan sekolah.
Copyrights © 2026