Kajian ini membahas transformasi dan dualisme sistem pendidikan di Hindia Belanda pada awal abad ke-20 sebagai dampak dari penerapan Politik Etis oleh pemerintah kolonial Belanda. Kebijakan tersebut membawa perubahan dalam bidang pendidikan, namun pada praktiknya melahirkan sistem pendidikan yang bersifat berbeda dan tidak setara antara golongan Eropa dan masyarakat pribumi. Pendidikan Barat diselenggarakan oleh pemerintah kolonial dengan orientasi mencetak tenaga administrasi yang terampil dan loyal terhadap kepentingan kolonial, sementara pendidikan pribumi berkembang melalui lembaga tradisional seperti pesantren yang menitikberatkan pada pendidikan agama dan pembentukan moral. Selain itu, muncul pula pendidikan priyayi yang diperuntukkan bagi kalangan bangsawan pribumi sebagai bagian dari strategi kolonial dalam mempertahankan struktur sosial masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dualisme pendidikan kolonial serta menjelaskan karakteristik pendidikan Eropa, pendidikan priyayi, dan pendidikan santri pada awal abad ke-20. Metode penelitian yang digunakan ialah metode kualitatif dengan pendekatan historis melalui studi kepustakaan dari berbagai sumber buku, jurnal, dan dokumen ilmiah yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pendidikan pada masa kolonial bersifat diskriminatif dan berlapis berdasarkan status sosial, ras, dan kepentingan politik pemerintah kolonial. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya ketimpangan akses pendidikan bagi masyarakat pribumi, sekaligus memperlihatkan adanya perbedaan tujuan, kurikulum, dan kesempatan pendidikan di setiap golongan masyarakat.
Copyrights © 2026