Penelitian ini berusaha untuk mengungkapkan tentang kajian budaya lokal bahasa ngapak dalam film karya pelajar di Festival Film Purbalingga, serta mengungkapkan nilai-nilai budaya dalam bahasa ngapak yang dikonstruksi dalam narasi visual film karya pelajar di Festival Film Purbalingga. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa representasi bahasa ngapak dalam film fiksi pelajar yang diputar di Festival Film Pelajar Purbalingga (FFP) memperlihatkan kerja kultural yang tidak sederhana: pelajar bukan hanya “merekam” budaya yang ada, tetapi memilih, menata, dan mengarahkan unsur‑unsurnya agar berfungsi sebagai jantung dramatik. Literatur budaya Banyumas menegaskan bahwa identitas Banyumasan menubuh pada bahasa ngapak, kuliner, relasi keseharian, serta etos peseduluran; elemen‑elemen itu memang paling kuat terasa pada skala domestik dan komunal yang kecil. Kedekatan visual (proximity) berfungsi sebagai taktik otentifikasi. Nilai-nilai budaya lokal dalam bahasa ngapak yang dikonstruksi dalam narasi visual film karya pelajar di Festival Film Purbalingga. Secara konseptual, pembacaan nilai bertumpu pada tiga landasan. Pertama, konsepsi bahasa ngapak dalam budaya Banyumas sebagai himpunan praktik dan etos yang menubuh dalam bahasa, kuliner, ruang komunal, dan jejaring peseduluran—alih-alih berhenti pada ritual besar. Poros pertama memperlihatkan nilai relasional yang bekerja di ruang domestik dan komunal: peseduluran, unggah-ungguh/tepa selira, dan ekonomi moral. Kedua, bahasa yang muncul mewujud dalam objek, gestur, dan ritme suara sebagai petunjuk nilai—karena film bekerja lewat pengalaman inderawi, bukan ceramah. Ketiga, konteks ekosistem FFP—layar tanjleb, kelas, komunitas—yang membingkai bahasa dapat diproduksi, dibaca, dan dinegosiasi dalam forum warga. Poros ketiga merangkum nilai perawatan (care), literasi kultural di era digital, serta ruang budaya sebagai mediator nilai.
Copyrights © 2026