Studi ini meneliti pergeseran perilaku konsumsi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dari pemenuhan kebutuhan utilitarian menjadi keterlibatan dalam praktik sosial simbolis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana ekosistem spasial kampus yang berbeda memengaruhi standar konsumsi, kebiasaan, dan pembentukan budaya mahasiswa melalui interaksi sosial fisik dan digital. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan empat mahasiswa yang dipilih melalui pengambilan sampel bertujuan dari kampus Ketintang dan Lidah Wetan antara April dan Mei 2026. Data diinterpretasikan menggunakan teori sosiologi budaya Pierre Bourdieu mengenai hubungan triadik habitus, lapangan, dan modal. Temuan menunjukkan polarisasi yang mencolok dalam pola konsumsi yang didorong oleh perbedaan spasial geografis. Karakteristik kampus Lidah Wetan, yang terkait dengan lanskap perkotaan modern Surabaya Barat, mendorong habitus konsumsi kafe estetika untuk mereproduksi perbedaan kelas sosial. Sebaliknya, ekosistem konvensional kampus Ketintang mempertahankan pola konsumsi komunal yang sederhana karena kendala keuangan. Dinamika ini dipercepat oleh ekosistem virtual dan sindrom Fear of Missing Out (FOMO), yang meningkatkan tekanan untuk kesesuaian digital dan mendorong mahasiswa untuk mengubah modal ekonomi menjadi modal simbolik, khususnya, untuk mendapatkan legitimasi dalam lingkaran sosial kampus. Studi ini menyimpulkan bahwa ruang komersial estetika telah berubah menjadi arena kontestasi simbolik bagi mahasiswa.
Copyrights © 2026