Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji sebuah fenomena baru dalam spiritualitas Kekristenan di masa kini, yaitu praktik doa di ruang digital. Kehadiran ruang digital dalam berbagai media sosial perlahan menggeser pengalaman konservatif dalam spiritualitas Kekristenan yang kemudian memasuki era baru. Tulisan ini memberi warna positif dalam spiritualitas di ruang digital yang adaptif dan kolaboratif. Fenomena praktik doa di ruang digital menjadi bentuk baru dalam spiritualitas Kekristenan di era modern. Dengan memanfaatkan perkembangan teknologi bukan berarti menggeser pola doa tradisional. Pendekatan studi literatur pada penelitian ini menggunakan pemikiran dari Paul Chambers yang mengemukakan tentang sekularisasi, Peter Horsfield tentang mediasi iman melalui media dan Scott R. Paeth tentang teologi publik untuk menegaskan bahwa kehadiran ruang digital bukan menjadi ancaman bagi spiritualitas Kekristenan. Praktik doa di ruang digital dapat menjadi sarana baru ataupun alat pendukung yang memungkinkan perluasan pelayanan bagi gereja. Doa di ruang digital harus dipahami sebagai bentuk spiritualitas kontemporer yang akan memperkaya ekspresi iman secara pribadi ataupun komunal tanpa menjadi pengganti persekutuan doa secara fisik yang selama ini sudah menjadi ritual umum di gereja ataupun di dalam persekutuan. Maka, ruang digital dapat dipandang sebagai cara transformatif yang akan membantu jemaat untuk membangun relasi kepada Tuhan dan sesama dengan cakupan yang lebih luas.
Copyrights © 2026