This study aims to analyze the anomaly in the relationship between regional financial accountability and human development across provinces in Indonesia during the pre-COVID-19 period. The research employs a qualitative descriptive approach using document analysis based on secondary data from the Audit Board of Indonesia (BPK) through the Summary of Audit Reports (IHPS) and publications from Statistics Indonesia (BPS), including regional losses, audit opinions, gross regional domestic product (GRDP) per capita, Gini ratio, and the Human Development Index (HDI). The findings reveal that the dominance of unqualified audit opinions (WTP) is not accompanied by uniformity in HDI achievements across provinces. In addition, regional losses do not exhibit a consistent pattern in relation to human development levels, while GRDP per capita tends to show a more aligned relationship with HDI compared to other indicators. These findings indicate a disconnect between administrative accountability and actual welfare outcomes. This study highlights that the success of regional financial management cannot be solely measured by audit opinions, but must also consider its effectiveness in improving the quality of life of the population. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis anomali dalam keterkaitan antara akuntabilitas keuangan daerah dan pembangunan manusia di provinsi Indonesia periode pra-pandemi COVID-19. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif berbasis analisis dokumen dengan memanfaatkan data sekunder dari Ikhtisar Hasil Pemeriksaan (IHPS) Badan Pemeriksa Keuangan dan publikasi Badan Pusat Statistik yang mencakup kerugian daerah, opini audit, PDRB per kapita, Gini Ratio, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Hasil analisis menunjukkan bahwa dominasi opini audit Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) tidak diikuti oleh keseragaman capaian IPM antarprovinsi. Selain itu, kerugian daerah tidak memperlihatkan pola keterkaitan yang konsisten dengan tingkat pembangunan manusia, sementara PDRB per kapita cenderung lebih sejalan dengan capaian IPM dibandingkan indikator lainnya. Temuan ini mengindikasikan adanya ketidaksinkronan antara akuntabilitas administratif dan outcome kesejahteraan masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pengelolaan keuangan daerah tidak dapat hanya diukur melalui opini audit, tetapi perlu dilihat dari efektivitasnya dalam mendorong peningkatan kualitas hidup masyarakat.
Copyrights © 2026