Nusa Tenggara Timur (NTT) menghadapi tantangan serius terkait stunting dan wasting pada balita, sehingga pemenuhan Angka Kecukupan Protein (AKP) hewani menjadi indikator krusial pembangunan sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan menganalisis proyeksi ketersediaan daging unggas pada periode 2026-2030 dan implikasi kontribusinya terhadap capaian AKP bagi penduduk NTT. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari BPS diolah menggunakan model regresi linear untuk peramalan. Ketepatan model diukur melalui MAPE, MAD, dan MSD, dengan perhitungan kontribusi protein menggunakan standar AKP 57 gram/hari. Hasil analisa menunjukkan adanya transformasi sektor peternakan menuju sistem intensif. Produksi ayam pedaging diproyeksikan meningkat drastis mencapai 31.055.297 kg pada 2030, dengan kontribusi terhadap AKP naik menjadi 3,621%. Sebaliknya, produksi ayam kampung dan itik diprediksi menurun drastis, menyebabkan kontribusi protein masing-masing menyusut menjadi 0,33% dan mendekati nol pada 2030. Di sisi lain, ayam petelur menunjukkan tren peningkatan produksi positif dengan kontribusi sebesar 0,060%. Kesimpulan dari penelitian ini, transformasi peternakan didominasi oleh ayam pedaging yang berfungsi sebagai sumber protein hewani bagi masyarakat urban dan semi-urban, sementara komoditas tradisional seperti ayam kampung dan itik semakin terpinggirkan dalam lanskap produksi daerah.
Copyrights © 2026