Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemberdayaan masyarakat di kawasan wisata bahari Kampung Melayu melalui pengembangan linguistic landscape dengan pendekatan Asset Based Community Development (ABCD) serta menganalisis kontribusinya terhadap penguatan identitas destinasi wisata berbasis budaya lokal. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan model pendampingan partisipatif. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan focus group discussion (FGD) yang melibatkan pengelola wisata, masyarakat setempat, kelompok pemuda, pelaku UMKM, dan wisatawan. Implementasi pendekatan ABCD dilakukan melalui tahapan discovery, dream, design, define, dan destiny yang berorientasi pada identifikasi aset komunitas dan pengembangan identitas visual kawasan wisata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Melayu memiliki potensi budaya, sosial, dan ekonomi yang kuat untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan. Program pendampingan berhasil meningkatkan kualitas linguistic landscape melalui penyediaan media informasi dwibahasa, penguatan slogan berbasis budaya lokal, serta pengembangan media edukasi dan identitas visual kawasan. Perubahan tersebut tidak hanya memperkuat citra destinasi wisata, tetapi juga meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan dan memperluas representasi budaya Melayu di ruang publik wisata. Secara teoretis, penelitian ini menunjukkan bahwa linguistic landscape dapat berfungsi sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat yang menghubungkan identitas budaya lokal dengan pengembangan destinasi wisata berbasis komunitas. Temuan ini memperkaya kajian linguistic landscape yang selama ini lebih banyak berfokus pada aspek kebahasaan, dengan menempatkannya sebagai strategi penguatan identitas dan pembangunan pariwisata berkelanjutan berbasis aset masyarakat. Kata Kunci: Linguistic Landscape, Pemberdayaan Masyarakat, Wisata Bahari, ABCD, Budaya Melayu
Copyrights © 2026