Angka kecelakaan kerja di Indonesia terus menunjukkan peningkatan signifikan dari tahun ke tahun, dengan cedera kepala akibat tertimpa benda menjadi salah satu penyebab utama kecelakaan fatal di sektor konstruksi. Di Indonesia, kelayakan safety helmet diatur melalui SNI ISO 3873:2012 yang mensyaratkan kemampuan material dalam menahan dan meredam energi benturan. Umumnya, safety helmet diproduksi dari polimer termoplastik yang memiliki keterbatasan berupa sulit terurai secara alami sehingga mendorong pengembangan material komposit berbasis serat alam sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh panjang serat pelepah pisang (5 mm dan 10 mm) dan kadar abu sekam padi (0% dan 5%) serta interaksi keduanya terhadap nilai ketangguhan impak komposit bermatriks polyester, sekaligus mengevaluasi kesesuaiannya sebagai material safety helmet berdasarkan SNI ISO 3873:2012. Penelitian menggunakan eksperimen faktorial 2×2 dengan 4 replikasi, dimana spesimen dibuat menggunakan metode hand lay-up dengan fraksi volume serat 15% yang telah diberi perlakuan alkali NaOH 5% selama 2 jam dan ketangguhan impak diuji menggunakan metode Charpy berdasarkan ISO 179-1 serta dianalisis dengan analisis variansi dua arah. Hasil menunjukkan bahwa panjang serat berpengaruh signifikan terhadap ketangguhan impak (p = 0,045), dengan serat 5 mm menghasilkan nilai rata-rata lebih tinggi sebesar 0,00238 J/mm2 dibandingkan serat 10 mm sebesar 0,00208 J/mm2. Kadar abu sekam padi (p = 0,336) dan interaksi antar faktor (p = 0,780) tidak berpengaruh signifikan. Seluruh spesimen menghasilkan nilai ketangguhan impak antara 0,00199 hingga 0,00243 J/mm2, di bawah nilai minimum SNI ISO 3873:2012, sehingga komposit yang dihasilkan belum memenuhi persyaratan standar sebagai material safety helmet
Copyrights © 2026