Penerapan gaya arsitektur industrialis yang mengekspos material raw seperti dak beton marak diaplikasikan pada hunian modern. Namun, ketiadaan elemen insulasi pada atap di kawasan iklim tropis pesisir berpotensi memicu anomali termal. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengkomparasi akumulasi beban pendinginan (cooling load) pada hunian dua lantai bergaya industrialis di Kabupaten Demak. Metode komputasi kuantitatif yang digunakan merujuk pada standar utilitas mekanikal ASHRAE dengan mengaplikasikan variabel Cooling Load Temperature Difference (CLTD). Analisis komparatif dilakukan antara ruang di lantai satu (terproteksi pelat lantai) dan lantai dua (terpapar atap dak beton secara langsung). Hasil perhitungan membuktikan terjadinya lonjakan beban termal yang sangat ekstrem pada lantai dua, yakni mencapai 9.984 BTU/h, melampaui secara signifikan beban lantai satu yang hanya sebesar 5.546 BTU/h. Diskrepansi absolut dengan lonjakan mencapai 80% ini mengonfirmasi bahwa atap beton ekspos bertindak sebagai konduktor panas masif yang memaksa eskalasi utilitas mekanikal secara drastis, dari kebutuhan awal tata udara berkapasitas 3/4 PK di lantai satu menjadi 1,5 PK di lantai dua. Penelitian ini menyimpulkan bahwa estetika arsitektur industrialis di wilayah pesisir wajib diintegrasikan dengan intervensi desain pasif, seperti penggunaan solar reflective coating atau roof garden, agar selaras dengan prinsip efisiensi energi bangunan berkelanjutan.
Copyrights © 2026