Insiden jatuh pada lansia merupakan persoalan keselamatan pasien yang kritis di panti jompo. Keterbatasan rasio perawat-penghuni (1:6) kerap menyebabkan keterlambatan respons darurat, sehingga lansia dapat terbaring lama di lantai yang memicu risiko komplikasi serius. Merespons permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian ini mengimplementasikan SIJAGA (Sistem Jaga Jatuh), sebuah perangkat wearable deteksi jatuh berbasis Internet of Things (IoT) di Panti Jompo Embun Kehidupan Bangsa, Pekanbaru, yang menampung 36 penghuni lansia dengan rata-rata waktu respons perawat sebelum intervensi 15 menit. Metode pelaksanaan mencakup observasi lapangan, kalibrasi perangkat, pelatihan intensif tenaga perawat, uji coba lapangan selama satu bulan, dan evaluasi program melalui pre/post-test serta survei kepuasan. Secara teknis, SIJAGA mengintegrasikan sensor inersial MPU-6050, mikrokontroler ESP32, modul GPS Neo-6M, serta modem GSM SIM7000G ke dalam casing ringkas (12×4×3 cm). Hasil program menunjukkan peningkatan kemampuan operasional 6 tenaga perawat dari 50% menjadi 85%, dengan 90% peserta dinyatakan kompeten secara mandiri. Seluruh insiden jatuh berhasil dideteksi dengan rata-rata delay notifikasi 2 detik dan waktu respons perawat menurun dari 15 menit menjadi 1 menit. Survei kepuasan menghasilkan skor rata-rata 4,76/5,0 dan 100% peserta menyatakan puas. Meskipun skala sampel uji masih terbatas, prototipe terbukti andal. Kebaruan kegiatan ini terletak pada penerapan langsung riset IoT di fasilitas pelayanan sosial, yang mewujudkan model replikabel untuk peningkatan keselamatan lansia.
Copyrights © 2026