Perkembangan teknologi digital telah mendorong kemunculan gerakan sosial baru berbasis platform digital di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia dan Nepal pada tahun 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis karakteristik gerakan sosial baru pada gerakan #BubarkanDPR di Indonesia dan #NepoBaby di Nepal, serta membandingkan pola mobilisasi digital keduanya dalam konteks politik yang berbeda. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Most Different Systems Design (MDSD), menggabungkan etnografi digital (netnografi) dan analisis dokumen terhadap konten dari Twitter/X, TikTok, Instagram, dan YouTube. Kedua gerakan menunjukkan karakteristik New Social Movements (NSM) yang serupa: berfokus pada isu simbolik dan moral (anti-korupsi, anti-nepotisme, akuntabilitas politik), berstruktur leaderless, dan memanfaatkan ruang digital sebagai arena mobilisasi horizontal. Perbedaan terletak pada intensitas kebebasan digital dan respons negara yang memengaruhi bentuk ekspresi publik. Temuan ini menegaskan bahwa gerakan sosial digital di negara berkembang merupakan fenomena global yang dibentuk oleh interaksi antara struktur politik nasional dan dinamika digital transnasional. Regulasi ruang digital yang demokratis perlu dirumuskan untuk mengakomodasi partisipasi politik generasi muda.
Copyrights © 2026