Penelitian ini bertujuan mengembangkan konsep theopreneurship sebagai kerangka teologis dalam membangun kemandirian ekonomi gereja tanpa menghilangkan identitas spiritualnya. Latar belakang penelitian ini adalah tingginya ketergantungan gereja pada persembahan dan bantuan eksternal, yang membatasi keberlanjutan pelayanan. Theopreneurship dipahami sebagai integrasi antara iman Kristen dan kewirausahaan, di mana aktivitas ekonomi dilihat sebagai bagian dari panggilan rohani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi pustaka yang diperkaya observasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa theopreneurship memiliki dasar biblika yang kuat, seperti mandat budaya, imago Dei, dan penatalayanan. Konsep ini menempatkan gereja sebagai agen transformasi sosial-ekonomi. Implementasi theopreneurship dilakukan melalui pemberdayaan jemaat, pembentukan unit usaha, serta pengelolaan sumber daya secara etis dan berkelanjutan. Dengan demikian, gereja tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga memperluas makna pelayanan melalui dampak sosial yang nyata.
Copyrights © 2026