Penelitian ini membahas strategi interoperabilitas komunikasi dan elektronika (Komlek) dalam integrasi Sistem Komunikasi Operasi (Siskomops) dan Sistem Komunikasi Wilayah (Siskomwil) guna mendukung efektivitas Satgas Pamtas RI–Malaysia di Kalimantan Barat. Permasalahan penelitian berangkat dari kesenjangan antara kondisi ideal komunikasi militer yang terintegrasi dan kondisi aktual di perbatasan yang masih dipengaruhi hambatan geografis, keterbatasan infrastruktur, serta perbedaan platform dan prosedur komunikasi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan kondisi aktual Siskomops dan Siskomwil, mengklasifikasikan hambatan interoperabilitas, serta menilai strategi interoperabilitas Komlek dalam integrasi kedua sistem. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan studi kasus pada Puskomlek TNI AD, Kodam XII/Tanjungpura, Korem 121/Alambhana Wanawai, serta pos-pos Satgas Pamtas di sektor Entikong, Jagoi Babang, dan Kapuas Hulu. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, studi dokumentasi, dan focus group discussion, serta diuji melalui triangulasi sumber dan metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Siskomops dan Siskomwil telah berjalan dan saling mendukung, namun integrasinya masih bersifat fungsional–parsial. Hambatan interoperabilitas bersifat multidimensi pada aspek teknis, organisasi, dan regulasi, sehingga memengaruhi keandalan dan kesinambungan komunikasi untuk komando dan kendali. Strategi interoperabilitas yang muncul dari data menekankan keterpaduan sistem berjenjang, standarisasi perangkat, penguatan SOP dan SDM, ketahanan jaringan dan dukungan daya, serta penguatan pedoman teknis dan keamanan komunikasi agar integrasi berlangsung konsisten dan meningkatkan efektivitas Kodal Satgas.
Copyrights © 2026