Penggunaan limbah industri berupa Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) 40% dan Fly Ash 10% sebagai substitusi sebagian semen merupakan solusi efektif dalam memproduksi beton ramah lingkungan. Karakteristik pozzolanik sekunder dari material tersebut mampu meningkatkan densitas mikrostruktur beton jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi umur beton serta rasio tulangan terhadap kuat lentur balok beton bertulang. Metode eksperimental dilakukan dengan menguji balok persegi berdimensi 10 cm × 20 cm × 100 cm. Variabel yang diteliti meliputi variasi rasio tulangan 0,00872 (A1) dan 0,0131 (A2) yang dikombinasikan dengan umur pengujian lentur metode pembebanan dua titik pada 28 hari (B1) dan 56 hari (B2). Parameter beban diukur menggunakan load cell, lendutan diukur dengan LVDT, sedangkan regangan direkam melalui sensor strain gauge. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan bahwa pertambahan umur dari 28 hari ke 56 hari menyebabkan penurunan kapasitas beban maksimum dan tegangan lentur rata-rata. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh faktor teknis berupa kondisi fisis agregat kasar yang masih basah pasca pencucian saat pengecoran, sehingga meningkatkan faktor air semen (FAS) aktual yang terkonfirmasi dari nilai slump yang melonjak hingga 17 cm. Berdasarkan analisis statistik Two-Way ANOVA, variasi umur tidak berpengaruh signifikan terhadap tegangan lentur (Sig. 0,304 > 0,05). Sebaliknya, rasio tulangan menjadi faktor yang sangat dominan, di mana peningkatan rasio tulangan meningkatkan nilai tegangan lentur maksimum secara signifikan (Sig. 0,001 < 0,05), dengan capaian sebesar 23,17 MPa untuk rasio 0,00872 dan 26,77 MPa untuk rasio 0,0131 pada umur 28 hari. Kata kunci : kuat lentur, GGBFS, fly ash, balok beton bertulang, rasio tulangan
Copyrights © 2026