Kawasan perbatasan Papua–Papua Nugini merupakan ruang sosial yang kompleks, di mana masyarakat adat mempertahankan hubungan kekerabatan, budaya, dan ekonomi yang melampaui batas negara modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika sosial masyarakat adat serta bagaimana dinamika tersebut membentuk dan mempertahankan identitas transnasional di wilayah perbatasan. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan memanfaatkan data sekunder melalui studi literatur dari jurnal ilmiah, buku, dan dokumen resmi yang relevan. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dan analisis konten untuk mengidentifikasi pola-pola utama dalam dinamika sosial dan konstruksi identitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas transnasional masyarakat adat terbentuk melalui praktik sosial sehari-hari seperti kunjungan keluarga, perdagangan tradisional, dan ritual adat lintas batas. Selain itu, jaringan kekerabatan lintas negara tetap menjadi fondasi utama dalam kehidupan sosial masyarakat. Namun, terdapat ketegangan antara kebijakan negara yang bersifat administratif dengan praktik lokal yang lebih fleksibel dan berbasis adat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa tata kelola perbatasan perlu mengadopsi pendekatan yang lebih inklusif dengan melibatkan masyarakat adat sebagai aktor utama. Dengan demikian, integrasi antara negara dan masyarakat adat menjadi kunci dalam menciptakan pengelolaan perbatasan yang berkelanjutan, adaptif, dan kontekstual.
Copyrights © 2026